Laman

Kamis, 23 April 2015

Melirik Pendidikan Pesantren

Oleh: Moh.Fathurrohman
Di zaman yang (Insya Allah) modern ini, kita telah merasakan uforia dunia yang terus maju sebagaimana yang kita amati saat ini. Sehingga pendidikan menjadi salah satu faktor terpenting yang harus kita dapati dan jalani. 

Mengingat hal itu, banyak sekali lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi fasilitator bagi para penuntut ilmu, mulai yang dianggap tradisional hingga modern. Dan pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang dikategorikan dalam bentuk tradisional. Meskipun begitu, yang terlihat sekarang ini lembaga pendidikan pesantren sendiri sedikit demi sedikit mulai mengalami penurunan peminatnya. Entah mungkin anggapan bahwa keluaran pesantren itu hanya pintar dalam masalah agama dan belum jelas nantinya mau jadi apa (pekerjaan). Bisa jadi, pendidikan di pesantren dianggap kurang maju dibandingkan lembaga-lembaga pendidikan modern yang lebih sistematis dan jelas output-nya sebagai pekerja professional.

Pesantren dan Karakteristiknya
Zamakhsyari Dhofier (1994: 84) mendefinisikan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.

Terlepas dari hal itu, yang jelas ciri-ciri umum keseluruhan pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang asli Indonesia, yang pada saat ini merupakan warisan kekayaan bangsa Indonesia yang terus berkembang. Bahkan, pada saat memasuki millennium ketiga ini menjadi salah satu penyangga yang sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia. (Zamakhsyari Dhofier 2011: 41).

Selain belajar ilmu, pendidikan di pesantren juga sangat memperhatikan akhlak dan mencegah maksiat. Hal ini terlihat betapa ta’dhim-nya para santri pada para guru mereka dan memulyakan kitab. Penempatan para santripun dipisah antara laki-laki dan perempuan, baik untuk tempat tinggal maupun tempat belajar (meski di satu majlis, tetapi ada tirai sebagai penutup) supaya santri lebih fokus belajar dan mencegah maksiat.

Sebagaimana nasihat Imam Waqi’ kepada Imam syafi’i dalam kitab Ta’lim Muta’allim:
“Aku (Imam Syafi’i) telah mengadu kepada guruku Waqi’ tentang buruknya hafalanku, Beliau menasihatkanku supaya meninggalkan maksiat, Beliau memberitahuku sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, Dan sesungguhnya cahaya Allah itu tidak akan dianugerahkan kepada mereka yang melakukan maksiat.”

Maka tak heran bila mereka yang keluaran dari pesantren banyak yang memiliki ilmu yang luas dan mampu terjun ke berbagai bidang. Seperti politik, sosial, keilmuan, dan lain sebagainya. Meskipun pendidikan pesantren masih dipandang tradisionalis dan terbelakang.

Dr. Soetomo (founding father Boedi Oetomo) dalam Polemik kebudayaan (tahun 1930-an) mengatakan: “Lihatlah buah dari perguruan asli kita (pesantren) itu, coba bercakap dengan kiai-kiai itu, sungguh mengherankan pada siapa yang berdekatan dengan mereka, logic mereka, pengetahuan mereka yang didapati dari buku-buku yang dipelajari mereka, pengetahuan yang sungguh ‘hidup’. Janganlah orang memandang ‘cara mengaji’ saja yang oleh beberapa debaters dipandang buruk itu. timbanglah juga semua keuntungan dan kerugian yang didapati secara perguruan pesantren itu dan yang didapati secara Barat dan lazim waktu ini, barulah orang mendapat bandingan yang sepadan. Bandingkan kegembiraan orang-orang yang hanya keluaran pesantren dengan orang didikan cara yang lazim sekarang. Orang akan heran bahwa mereka yang disebut pertama (orang yang hanya keluaran pesantren) biasa memasuki semua lapangan pekerjaan, biasa menduduki pekerjaan-pekerjaan yang seakan-akan bersifat merdeka, sedangkan angan-angan anak-anak zaman sekarang hanya akan mencari pemburuhan [yakni sebagai pegawai administrasi atau kuli yang di gaji-AB], kebanyakan.”

Jadi menurut hemat penulis, jelaslah bahwa hasil pendidikan pesantren itu tidak perlu diragukan lagi. Meski terkesan tradisional, tetapi kesungguhan mereka dalam mencari ilmu mampu memulyakan dan meningkatkan derajat mereka. Oleh karena itu tidak ada salahnya bila pendidikan pesantren menjadi bahan lirik-an  untuk meningkatkan kualitas pendidikan generasi yang leih baik.

Penulis adalah santri tak berpangkat dari alumni Ponpes Nurul-Anwar, Kembang-Dukuhseti-Pati, Jawa Tengah. Selain itu penulis juga masih sangat mengharapkan bimbingan untuk terus menggoreskan kaya lewat tinta-tinta harapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar