Laman

Jumat, 08 Mei 2015

Gak Pede Jadi Bangsa Sendiri

Oleh: Yudi Prayoga
Pede dengan bangsa sendiri, ini sangat erat kaitanya dengan pede dengan diri sendiri, dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainya. Kita, sebagai bangsa yang telah merdeka selama 70 tahun, mengalami perubahan yang sangat pesat, mengalami kemajuan dalam hal pendidikan, perekonomian, sosial dan budaya, apalagi dalam hal teknologi, yang sekarang hampir telah mendarah daging di benak bangsa kita. Seolah-olah hidup sekarang tanpa teknologi bagaikan sayur tanpa garam. 


Memang bangsa kita, sebagai bangsa yang kaya akan berbagai budaya, suku, etnis dan bahasa. Menjadikan kita sebagai bangsa yang besar dimata dunia. Contoh kecil saja, wayang dan gamelan, alat musik tradisional yang di pelajari di amerika. Dan juga tentang budaya kepesantrenan yang menjadi kajian wajib di Universitas California, dengan bahan ajaran novel ayat-ayat cinta karangan Habiburrahman El-Syirazi.

Tetapi kebesaran di mata dunia, kadangkala kita lupa untuk menjaga dan melestarikanya, lama lama kitapun enggan menggunakan dan merawatnya, serta yang paling berbahaya yaitu, merasa gak pede dengan budaya bangsanya sendiri. Sehingga banyak budaya yang kita miliki juga diakui oleh bangsa lain, karena keteledoran kita akan berharganya warisan nenek moyang. Kadang kala, kita pun tidak merasa kehilangan. Seperti pengakuan Malaysia atas Reog Ponorogo, Ludruk, Batik, keris dan lain sebagainya, yang diakui sebagai warisan Negri Johor. Inikan sangat memalukan, sebagai pewaris budaya yang menelentarkan begitu saja. Kalau sudah begini siapa yang salah, siapa yang merasa bersalah, dan siapa yang mau disalahkan. 

Gak pedenya juga, kita terlalu gandrung dengan budaya orang lain, dan menganggapnya keren, gaul, trend, dan sesuai dengan era sekarang. Padahal belum tentu yang namanya dari luar,  mengandung nilai kebaikan, keharmonisan, dan keramahan. Memang kita tidak mungkin bisa membendung budaya yang datang dari barat, maupun timur. Karena semua bangsa berloma-lomba menginginkan  budayanya yang paling maju, dan paling berpengaruh diseluruh dunia. Kita sebagai bangsa mandiri, harus berdiri diatas kaki sendiri, harus sadar, dan ingat bahwa kita memang mampu menyokong peradaban sekarang dan yang akan datang. 

Dalam pendidikan sejarah, kita-pun dibuat gak pede oleh pemerintah, dengan bangsanya sendiri. Mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Contohnya dalam buku-buku sejarah, bahwa bangsa kita dijajah kolonial Belanda selama 350 tahun, atau 3 abad setengah, dan yang memprihatinkan lagi guru sejarahnya-pun menerangkanya sangat tekstual dan tidak ada pembanding yang lainya. Kita sudah sangat lama dibodohi oleh ilmu pengetahuan yang beracun, yang membenak dipikaran bangsa. Padahal seharusnya dan sebenarnya kita dijajah kolonial Belanda hanya 10 tahun, selebihnya Belanda hanya mencoba menjajah, bahkan Aceh tidak pernah takluk. Karena apa, yang dijadikan rujukan ilmu, hanya berasal dari komentar-komentar dan lelucon Bangsa Barat, yang sepenuhnya mengandung distorsi sejarah. Namun setengah kebenaran sejarah bangsa ada di dalam teks-teks pujangga yang ada di museum Belanda. Karena yang namanya kolonial selamanyapun akan tetap menjajah walaupun, tidak dengan cara fisik, namun dengan cara mental dan fikiran. Sehingga kita masih menganggap bahwa bangsa kita lemah dalam intelektual dan fisik. Namun sebaliknya itu salah, bangsa kita selalu bertahan dan mempertahankan martabat bangsa, sejak zaman dahulu kita pernah menjadi bangsa adi kuasa, bangsa yang makmur, baladatun toyyibatun warabbul ghofur.
 
Melirik sebentar keadikuasaan bangsa kita. Pada tahun 270 M, atau abad ke-3 masehi. Seorang pelau bernama Guanseng menuliskan, bahwasanya ada kapal dari selatan Jawa datang ke China, yang ukuran kapal tersebut tiga kali lipat ukuran kapal China, panjangya 65 meter dan tingginya 10 meter, dinaiki sebanyak 700 awak, serta muatan 10.000 ton barang. Jadi kita dapat membayangkan kehebatan bangsa kita sebagai negara maritim yang dapat membuat kapal-kapal besar, kapal perang, dan kapal perdagangan, yang dahulu belum pernah ada yang menyetaraainya. Pada tahun 648, bangsa kita telah memiliki undang-undang hukum pidana dan perdata, namanya Kalingga Dharma Jastra, yang disusun oleh raja Kartiga Singga suami dari ratu Sima, mempunyai 119 pasal. Untuk perbandingan, pada tahun 648, itu bersamaan dengan kekhalifahan Utsman bin Affan. 

Bangsa pribumi sejak zaman dahulu menjadi bangsa nomor satu. Para wali songo atau kaum Brahmana (guru-guru), itu gampang diterima oleh kalangan pribumi, karena menyesuaikan struktur sosial, menghormati kaum pribumi dan memulyakanya. Baru setelah 1 mei 1848 mengalami perubahan, ketika belanda menerapkan struktur sosial yang namanya Burgolk Wertburk, kulit putih sebagai warga pertama, China dan arab warga kedua, dan pribumi warga ketiga. Sejak saat itu pula, banyak pemberontaka pribumi. Tercatat dalam sejaraah sejak tahun 1800-1900 M, terjadi sebanyak 112 kali pemberontakan yang dipimpin guru tarekat dari pesantren, contohnya KH. Hasyim Asyari yang tidak mau menggunakan adat jepang seikere. 

Zaman sekarang, secara umum ada tiga pemetaan karakteristik budaya bangsa kita, yang membuat kita jadi gak pede menggunakan budaya bangsanya sendiri, meskipun hanya mengadopsi, meniru-niru. Pertama, penganut agama dengan atribut keagamaanya, seperti islam dengan selalu menggunakan jubah, berjenggot, berbahasa, ana, antum dan lain sebagainya. Ini kan budaya jazirah arab, bukan semata-mata karena warisan Islam. Seperti ungkapan Gus Dur ”islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita, menjadi budaya arab, bukan untuk ’aku’ jadi ’ana’, ’sampeyan’ jadi ’antum’, ’sedulur’ jadi ’akhi ukhti’, kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajaranya, tapi bukan budaya arabnya”. Kedua, bangsa kita dengan budaya barat, sekarang banyak perubahan dalam bersikap dan sopan santun terhadap sesama pribumi, dikatakan di dalam literatul dan halaqoh, bahwa bangsa barat merusak bangsa dengan 3F (food, fashion, fun). Memang kalau kita amati pernyataan tersebut benar, bahkan dapat kita tamukan sehari-hari juga dalam diri kita sendiri. Makanan ingin yang bergengsi, pakaian ingin yang keren ala barat keluaran tahun baru, dan hiburan-hiburan yang penuh ketidak ramah dan sopan santun. Semua penuh kapitalisme, apalagi yang tinggal di ibu kota. Ketiga, yang tidak bisa meninggalkan budaya leluhurnya dan tidak bisa menolak budaya yang datang dari timur, maupun barat tetapi harus di filter dahulu. Jika dalam istila jawa “jowo di gowo, arap di garap, barat di ruat”, dengan istilah diatas, sebaiknya bangsa kita memiliki karakter yang ketiga, selain tidak lupa dengan budayanya sendiri, tetapi juga toleransi diperlukan untuk mengharmonisasikan, merukunkan perdamaian dunia. Sehingga bangsa kita menjadi mercusuar dunia, dan selalu pede dimanapun tempatnya, dan kapanpun waktunya. 

Jadi sekarang kita sebagai bangsa yang mewarisi budaya leluhur kita, harus selalu pede, dan harus selalu d ijaga, jangan sampai ruh kita hilang dari jasad, bisa dikatakan bangsa yang sakit. Budaya kita ramah bukan pemarah, bangsa yang plural, toleransi, sopan santun (andap asor), dan adikuasa. Kita sebagai pemuda harus selalu semangat mewujudkan negri gemah ripah loh jinawi, yang bersemboyan bineka tunggal ika, dan yang satu lagi jangan dilupakan ”pedelah dengan budaya bangsamu sendiri, jika ingin membangun istana sampai ke bulan”. Wallau a’lam bishowab, to be continue

Penulis Abal-Abal, Yang Selalu Kurang Dalam Kecukupan Dan Cukup Dalam Kekurangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar