Laman

Senin, 15 Juni 2015

Soft Launching Gerakan Nasional #AyoMondok

Pesantren adalah model pendidikan tertua di Indonesia yang hingga saat ini masih bertahan hingga saat ini. Sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia, pesantren memiliki keunikan tersendiri yang tidak ditemui dalam sejarah peradaban Islam di Timur Tengah dan dunia Islam pada umumnya. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan khas Indonesia, pesantren sudah banyak melahirkan ulama yang memiliki penguasaan yang mendalam terhadap khazanah keislaman klasik.
Pesantren juga memberi kontribusi bagi lahirnya pemimpin-pemimpin bangsa ini. Bahkan, sejak zaman pra-kemerdekaan, pesantren sudah mengambil peran aktif dalam melawan penjajah. Ini bisa dipahami karena pesantren lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pesantren Sidogiri adalah pesantren tertua di Indonesia yang berdiri tahun 1718, disusul oleh Pesantren Jamsaren Solo Jawa Tengah (1750), Pesantren Miftahun Huda Malang (1768), Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat (1785), Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Madura (1787). Dari pesantren-pesantren inilah kemudian lahir pesantren-pesantren lain di Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan tertua, pesantren tidak hanya bisa bertahan, tetapi terus berkembang dengan cukup. Menurut data Kementerian Agama (2012), jumlah pondok pesantren di seluruh Indonesia mencapai 27.230. Menurut pemetaan Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Indonesia, dari 27.230 tersebut, lebih dari 90% (25.214) adalah pesantren yang menganut pagam Ahlussunnah Waljamaah dan berafiliasi kepada Nahdlatul Ulama.
Pada awalnya, pesantren hanya mengajarkan pendidikan agama melalui pengajian kitab kuning. Tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, pesantren kemudian mengadopsi jenis pendidikan formal, mulai dari pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi. Hingga kini sudah banyak pesantren yang mendirikan perguruan tinggi dengan disiplin ilmu yang tidak semata-mata agama tetapi juga disiplin keilmuan sebagaimana perguruan tinggi pada umumnya.
Basis Islam Nusantara
Sebagai lembaga pendidikan keagamaan, pesantren adalah satu-satunya institusi yang secara konsisten menjadi pusat pembelajaran keagamaan secara mendalam. Disamping menyelenggarakan pendidikan formal mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, pesantren juga mengemban tugas sebagai pusat pembinaan dan kaderisasi ulama. Dari lembaga inilah lahir ulama-ulama besar yang disegani dan dihormati berkat penguasaan khazanah keislaman yang sangat mendalam. Hingga saat ini, masih banyak pesantren-pesantren salafiyah yang hanya menyelenggarakan pengajian kitab kuning tanpa tergoda untuk menyelenggarakan pendidikan formal sebagaimana pesantren-pesantren pada umumnya.
Pesantren adalah pewaris tradisi keislaman Wali Songo yang menyebarkan Islam dengan damai, santun, toleran dan sangat menghormati tradisi lokal. Sebagaimana Wali Songo, pesantren selalu mengedepankan akhlaqul karimah dalam mendakwahkan Islam. Pesantren menjadi basis keislaman yang menjunjung tinggi keragaman budaya Nusantara. Tradisi keislaman yang sangat menghormati tradisi dan budaya Nusantara ini menjadi benteng di tengah gerakan-gerakan Kelompok Islam Puritan yang menghendaki model keislaman yang kaku, hitam putih dan cenderung menganggap tradisi dan budaya lokal sebagai berhala yang harus dihancurkan.
Pendidikan Karakter
Salah satu keunikan pesantren yang nyaris tidak ditemukan dalam lembaga pendidikan sejenis adalah pembinaan dan pendampingan terus menerus selama 24 jam kepada santri-santrinya. Santri dituntut tidak hanya belajar, tetapi juga dididik sedemikian rupa untuk menjadi calon pemimpin. Pesantren membekali santrinya dengan nilai-nilai melalui pembiasaan sehari-hari. Pesantren adalah perpaduan antara ilmu dan akhlaq; antara iman dan amal, antara kesalehan individu dan kealehan sosial; antara nilai-nilai dan pembiasaanya setiap hari.
Pesantren adalah basis pendidikan karakter yang sesungguhnya. Santri tidak hanya dituntut mandiri dengan mengurus semuanya tanpa bantuan orang lain, tetapi juga diajari cara bersikap dan bergaul dengan orang yang berbeda-beda, berasal dari daerah yang berbeda-beda, dengan budaya yang berbeda-beda pula. Di sinilah penanaman nilai-nilai keragaman dan perbedaan mulai ditanamkan secara tidak langsung.
Dengan pengawasan, pembinaan dan pendampingan terus menerus, pendidikan karakter yang sesungguhnya tengah ditanamkan sejak dini kepada santri. Yakni karakter generasi yang bisa hidup berdampingan dengan orang lain secara damai, berkompetisi dalam setiap ajang perlombaan, baik akademis maupun keterampilan teknis, pembiasaan untuk menghormati orang lain, terutama orang tua dan guru, pembinaan kedisiplinan melalui pembiasaan untuk taat terhadap peraturan, pembianaan ketaqwaan dan akhlaqul karimah melalui praktik dan keteladanan dari para ustadz dan kyai dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Ayo Mondok
Di tengah krisis moral yang melanda negeri ini, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa, pesantren sesungguhnya adalah pilihan utama untuk mendidik generasi yang berkarakter. Carut marut dunia pendidikan yang diwarnai oleh kemerosotan moral, mulai dari narkoba, minum-minuman keras, tawuran, sex bebas, hingga masalah kebocoran soal ujian nasional, adalah fenomena yang menggugah kesadaran kami untuk membangun Gerakan Nasional Ayo Mondok.
Secara moral, hanya pesantren yang bisa menyelamatkan generasi muda dari kencenderungan-kecenderungan pendidikan yang merusak. Perilaku yang baik hanya bisa dilakukan dengan pembiasaan secara terus menerus untuk bersikap baik. Pembiasaan selama 24 jam dengan pengawasan, pembinaan dan pendampingan terus menerus adalah bentuk pendidikan karakter yang sudah lama dilakukan di pesantren, jauh sebelum isu pendidikan karakter muncul.
Gerakan Nasional Ayo Mondok adalah bentuk kepedulian kalangan pesantren yang tergabung dalam Rabitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU), terhadap fenomena dunia pendidikan yang gagal menanamkan pendidikan karakter kepada pelajar dan mahasiswa. Kegagalan dunia pendidikan tentu tidak bisa menunjuk lembaga pengelola pendidikan sebagai biang keladinya. Kencenderungan pendidikan formal yang hanya mengejar prestasi akademik tanpa mempedulikan pendidikan akhlak tentu menjadi salah satu faktor yang menggerus pendidikan karakter. Kenyataan ini diperparah oleh lingkungan pergaulan yang negatif, orang tua yang tidak cukup peduli, ormas yang sibuk dengan dirinya sendiri, partai yang hanya mengejar kekuasaan, parlemen yang abai terhadap pendidikan, pemerintah yang tidak berpihak terhadap pendidikan karakter.
Jika kita sepakat soal pentingnya pendidikan karakter, maka pesantren adalah pilihan satu-satunya, tidak ada yang lain!
Sumber RMI-NU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar