Laman

Senin, 12 Oktober 2015

Kedipan Si Bocah

Oleh:  Madno Wanakuncoro

Roda waktu seolah mengebut
Menggilas semuanya tiada luput
Dengan sombong ia kelang-kelok
Hingga tak jarang yang tersodok

Kini kurindukan silam
Saat mata masih bersih suci tiada kusam
Belum ternoda oleh dunia yang kian mencekam
Hingga memaksaku buta dan beraut masam

Kala itu, aku berangan kini
Saat si bocah berkedip polos
Lantas ia instruksikan nuraninya ikuti naluri
Mencubit rerumputan dan menyepak bebatuan

Ia terlantar oleh keadaan paksa
Demi mengais rupiah
Dengan peluh di usia bocah
Meski harus menyisihkan setumpukan kelereng dan layang-layang
Meski harus mengubah wangi keringat saat berlarian mengejar bola
Air mukanya tetap membuncah
Mengucurkan tetes demi tetes
Melubangi relung dada

                                                [Bandung, 24 Maret 2015]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar