Apa kabar?

Post Top Ad

Kamis, 15 Oktober 2015

KEKUATAN PIKIRAN KAUM SARUNGAN

Oleh: Ibrahim Nur. A

Dalam Al-Khawatir, Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi mengatakan bahwa pikiran adalah alat ukur yang digunakan manusia untuk memilih sesuatu yang dinilai lebih baik dan lebih menjamin masa depan diri dan  keluarganya. Dengan berpikir kata James Alan, seseorang bisa menentukan pilihanya, dalam psikologi sosial, ilmuan mendefenisikan “berpikir” sebagai bagian terpenting yang membedakan manusia dari binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda mati.


Dengan berpikir, manusia bisa membedakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, antara halal dan haram. Antara positif dan negatif. Dengan begitu, ia bisa memilih yang cocok bagi dirinya dan bertanggung jawab atas pilihanya.

Nah, kekuatan berpikir yang dimiliki oleh kaum sarungan sangatlah dipertimbangkan , karena kebanyakan masyarakat mengatakan bahwa pola pikir seorang santri sangat terbatas disebabkan karena tidak bebasnya dalam menggunakan Alat teknologi ketika berada dipondok, padahal faktanya tidak seperti itu.

Seorang santri yang masyarakat ketahui hanya ngaji ngaji dan ngaji, Saya katakan itu tidak benar. Mengapa demikian? Karena santri itu adalah penyelamat bangsa dan negara ini, melalui pola pikirnya yang setiap hari mengkaji ilmu-ilmu agama yang diimbangi oleh ilmu umum.

Pola pikir seorang santri bermacam-macam, antara baik dan buruk dapat difilter melalui ilmunya. terkadang santri menggunakan pola pikirnya sesuai nafsunya dan itu mengantarkan kepada keburukan, namun santri yang lain juga terkadang menggunakan pola pokirnya melalui hati, dan itu yang mengantarnya kepada kebaikan, disini santri selalu berpikir, berpikir dan berpikir dan dapat menfilter keduanya, lewat pola pikir diatas yang disebutkan santri juga terkadang berpikir bagaimana cara memadukan pola pikir itu, agar dapat mengantar kepada kebaikan.

Dalam Quwwat al-Tahakkum fi al-Dzat, kalimat bijak dari filsafat India kuno, ”Hari ini anda tergantung pada pikiran yang datang saat ini. Besok Anda ditentukan oleh kemana pikiran membawa Anda.Begitulah kenyataanya, perasaan dan perbuatan pasti dimulai dari pikiran. pikiranlah yang menjadi pendorong setiap perbuatan dan nampaknya. Pikiranlah yang menentukan kondisi jiwa, tubuh, kepribadian, dan asa percaya diri.

Dr. Ibrahim El Fiki seorang motivator muslim dunia, Ia pernah membaca buku dalam Aladdin faktor karya Jack Canfield dan Mark Viktor. Ia menemukan informasi yang menghentak kesadaran, dalam buku itu disebutkan bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60. 000 pikiran. satu-satunya yang dibutuhkan sejumlah besar pikiran ini adalah pengarahan. jika arah yang ditentukan bersifat negatif, maka sekitar 60. 000 pikiran akan keluar dari memori ke arah negatif. Sebaliknya, jika pengarahanya positif maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah positif.

Pada tahun 1986, penelitiannya pada fakultas kedokteran di San Francisco mengatakan bahwa lebih dari 80% pikiran manusia bersifat negatif. Hasil penelitian ini memperkuat pernyataan bahwa nafsu lebih cenderung menyeruh kepada keburukan ammarah bi al-su’) dengan hitung-hitungan sederhana, 80% dari 60. 000 pikiran berarti setiap hari kita memiliki 48. 000 pikiran negatif. Semua itu turut mempengaruhi perasaan, perilaku, serta penyakit yang mendera jiwa dan raga. Jika demikian, kita harus ekstra hati-hati dalam memilih pikiran dalam benak kita.

Ketika anda merasa lapar dan di hadapan anda, ada 3 menu; makanan rumahan, makanan hotel berbintang lima, dan makanan dari keranjang sampah. Mana yang anda pilih? Ketika pertanyaan ini dilontakan kepada seseorang, tidak satupun yang memilih makanan dari keranjang sampah, yang ada memilih makanan rumahan dan makan hotel berbintang lima, Mengapa demikian? Karena, setiap orang sangat memerhatikan kelangsungan hidupnya. Tak seorang pun, memilih sesuatu yang berdampak negatif bagi kelangsungan hidupnya.

Jika manusia benar-benar tidak ingin meletakkan sesuatu yang berbahaya dalam tubuhnya, Mengapa ia mengisi pikirannya dengan hal-hal yang berpengaruh negatif pada setiap aspek hidupnya, termasuk kesehatan jiwa raganya? Mengapa ia memberi gizi pikirannya dengan keranjang sampah? Hal ini bergantung pada proses sebelumnya: orangtua, keluarga, lingkungan, sekolah, dan media informasi.

Jadi, kita hampir tidak punya pilihan gizi untuk pikiran dan proses perkembanganya. Kini saatnya kita memilih berbagai pikiran seperti halnya kita memilih makanan yang kita santap dan pakaian yang kita kenakan. Untuk mewujudkan semua itu, kita harus tetap tawakkal kepada Allah SWT. Kita mulai dari memahami arti pikiran dan kekuatanya. Pikiran adalah kekuatan. Dalam Al-qur’an surah Al-zumar ayat 9.

Mari kita mulai menjelajahi kekuatan pikira, “kemuliaan manusia terletak pada pikiranya.


Penulis adalah santri asal Makassar, mahasiswa PBSB 2015 Jurusan Tasawuf Psikoterapi