Laman

Jumat, 17 Maret 2017

MENELA'AH JIWA NASIONALISME DALAM FORUM DISKUSI (FORDISK)


Oleh: Atssania Zahroh 

Jumat (17/03) kemarin, PSDM CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah melaksanakan salah satu program kerjanya, yakni Forum Diskusi (Fordisk). Pada kesempatan itu, tema yang disuguhkan adalah "Antara Nasionalisme atau Fanatisme?" . Diangkatnya tema ini adalah disebabkan oleh banyaknya kasus yang terjadi di negara Indonesia yang membuat miris bagi siapa saja yang mengetahuinya, lebih khusus lagi bagi masyarakat Indonesia yang lebih beruntung atau bernasib baik dibanding mereka -putra-putri bangsa yang belum bisa mengenyam pendidikan layak, apalagi menikmati beasiswa seperti mahasiwa/i Progaram Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) di berbagai PTN di Indonesia-.

Lantas apa hubungannya mereka yang tidak mendapat pendidikan layak dengan Nasionalisme?. Nasionalisme merupakan suatu perasaan yang menumbuhkan jiwa cinta tanah air di dalam hati masyarakat Indonesia. Bagaimana menunjukkan rasa cinta terhadap tanah air kita sendiri? Bela negara (salah satunya) adalah bentuk perwujudan dari jiwa nasionalisme. Sudah sepantasnya bagi seluruh putra-putri bangsa Indonesia untuk membela, rela berkorban, hingga berjuang untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Memang sudah bukan waktunya bagi kita untuk membela negara dengan mengangkat senjata ataupun bambu runcing layaknya para pejuang kemerdekaan dahulu dalam perjuangan melawan tentara penjajah. Akan tetapi, yang wajib kita laksanakan saat ini adalah mengisi kemerdekaan Indonesia sendiri dengan meningkatkan kemajuan Negara Indonesia.

Pada kesempatan diskusi ini, sebagian anggota CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung menghadiri forum diskusi ba'da Ashar di gedung perkualiahan pasca sarjana lantai 2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk refleksi terhadap masalah-masalah yang mempertanyakan rasa nasionalisme bangsa yang terjadi di negara kita tercinta ini, Indonesia. Banyak definisi Nasionalisme yang diungkapkan anggota CSSMoRA. Antusiasme peserta terlihat ketika membicarakan tentang seberapa pentingkah nasionalisme dan sudah sejauh mana rasa nasionalisme kita? Mulai dari yang menyebutkan bahwa nasionalisme adalah tulus, cinta negara, tanpa pamrih, berjuang, bela negara, dan menjaga, hingga bangga menggunakan produk dalam negeri. “Coba jelaskan dari masing-masing pengertian yang telah diutarakan”, tegas M. Nasrudin (Narasumber/anggota CSSMoRA aktif UIN UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2014). Diskusi semakin hidup karena peserta diskusi yang bersemangat untuk membuktikan apa nasionalisme yang sebenarnya menurut perasaan dan pengalaman mereka. “Semua definisi yang diungkapkan teman-teman sudah benar, akan tetapi menurut saya dari kesemuanya dapat disimpulkan bahwa Nasioanlisme adalah layaknya iman, ditanamkan didalam hati (rasa cinta tanah air), lalu diucapkan dengan lisan (semangat nasionalisme), dan dibuktikan dengan tindakan (bela negara) yang berlandaskan Pancasila”, terang Burju (anggota CSSMoRA aktif UIN UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2015).

Ternyata masih banyak hal yang belum tercakup dengan nasionalisme itu sendiri. Dari masalah kemiskinan, pendidikan, ekonomi, teknologi, rasa nasionalisme yang semakin memudar. Miskin menjadikan seseorang sulit untuk mendapatkan pendidikan, sehingga Sumber Daya Manusia (SDM) tergolong rendah. Bangsa Indonesia dengan mudah menerima tawaran kerjasama dengan negara lain seiring dengan diterapkannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di Indonesia. Membebaskan negara lain  untuk menanam investasi di Indonesia. Tujuannya baik, yaitu memperbaiki infrastruktur di Indonesia, pendidikan, teknologi maju (dapat membuat kereta, membuat pesawat), sehingga perkembangan negara Indonesia semakin maju pesat. Namun, yang menjadi poin adalah masyarakat Indonesia menjadi 'bodoh', dalam arti terlena. Terlena atas ‘iming-iming’ keuntungan di awal ketika negara lain menawarkan kerjasama. Dan pada kenyataannya, -bangsa Indonesia yang kerja, investor yang mengeruk keuntungan-. “Salah satu penyebabnya adalah SDM rendah, tidak berpikir panjang bagaimana dampak yang timbul dari langkah yang diambil saat ini”, tutur narasumber
Narasumber juga menyajikan tayangan video perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kekuatan demi kemerdekaan. Perjuangan dalam kemerdekaan di Surabaya dengan pahlawan nasional ‘Bung Tomo’. Para pejuang tidak ada kata menyerah dalam memperjuangkan kemerdekaan. “MERDEKA !!! atau Mati”, teriak Bung Tomo. Rela mati dibanding tidak merdeka. Begitulah yang terjadi pada 71 tahun silam. Sekarang Indonesia sudah merdeka, sudah berdiri sebagai negara yang diakui dunia. Tapi merdeka saja belum cukup. Nasionalisme tidak akan pernah luntur, selama negara Indonesia masih berdiri. Bela negara selalu ada, jiwa dan raga kita (bangsa Indonesia) harus tetap hidup untuk menjaga dan mempertahankan Indonesia. Namun fenomena atau nasib pilu masih menyelimuti kemerdekaan Indonesia. Inilah yang membutuhkan perhatian, Nasionalisme yang bersifat menyamaratakan taraf kehidupan seluruh daerah di Indonesia, dari segala aspek seperti ekonomi, sosial, teknologi, pendidikan, dan sebagainya.
Kader-kader CSSMoRA yang bangga menjadi putra-putri Indonesia inilah yang menjadi pelopor Nasionalisme demi menyelesaikan permasalahan di atas. Anggota CSSMoRA yang basic-nya adalah pesantren tidak jauh berbeda dengan para pahlawan nasional. Mereka juga berangkat dari pesantren. “Jangan salah, seorang Bung Tomo dan rakyat Surabaya yang semangatnya berkobar untuk merobek warna biru bendera Belanda di Hotel Yamato adalah santri nusantara. Sudah seharusnya kita meneruskan perjuangan mereka dengan nasionalisme kita terhadap Indonesia”, ungkap narasumber.
Santri CSSMoRA memiliki tugas penting dalam nasionalisme Indonesia. Belajar dengan sungguh-sungguh dan mengabdikan diri dengan ilmu yang didapat kepada Indonesia. Memajukan Indonesia dengan penanaman nilai pesantren, yang mengutamakan kepentingan dan kebaikan bersama, dan penuh berkah. Berkah inilah yang akan membawa Indonesia untuk sejahtera. “Para petani menggunakan tangannya dengan penuh cinta dalam menanam padi, hasilnya akan lebih berkah dibanding menggunakan mesin. Inilah yang tetap harus dipertahankan”, ungkap M. Nasrudin bangga. Santri juga bisa ber-nasonalisme. Santri merangkul masyarakat untuk sadar dan bertindak yang terbaik untuk Indonesia. (Bangsa) Indonesia cenderung suka diberi, bukan suka memberi. Akan tetapi bersama santri, bangsa Indonesia menjadi suka memberi dengan berbagi, ‘sampaikanlah, walau hanya satu ayat’. “Jangan menuntut apa yang telah negara berikan pada kita (rakyat), akan tetapi apa yang telah mampu kita (rakyat) korbankan/beri untuk negara tercinta ini, Indonesia”.

#CintaiNegara
#junjungHarkatDanMartabatBangsa
#Aku_kamu_INDONESIA

Penulis merupakan Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Angkatan 2016,  jurusan Tasawuf  Psikoterapi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar