Laman

Jumat, 27 Oktober 2017

Kunjungan Direktur PD Pontren Pusat



Aula fakultas ushuluddin lantai 4 (26/10) - Seluruh mahasiswa PBSB UIN Sunan Gunung Djati Bandung (angkatan 2014-2017) berkesempatan bertatap muka dengan Direktur PD Pontren Pusat (Jakarta).
Bapak Hasan Mudis (ketua jurusan Tasawuf Psikoterapi) sebagai pengatur jalannya acara kunjungan Bapak Direktur tersebut. Acara dibuka oleh Bapak Hasan sekitar pukul 13.15 WIB. Sarasehan bersama Bapak Prof. Dr. KH. Jayadi (Direktur PD Pontren) membahas pengambilan ijazah bagi angkatan pertama (2013), yang wacana awal harus diserahkan ke pusat (Jakarta). Sebelum membahas lebih jauh, terlebih dahulu cuap-cuap oleh Bapak Dekan, Bapak Rosihon Anwar yang membuat keadaan sangat cair, karena menyinggung LC (Living Cost) yang tidak mudah cair seperti canda tawa bapak dekan.
Bapak PD Pontren bersama kita sampai kurang lebih jam 14.00 WIB. Bapak Jayadi merespon terkait keterlambatan LC yang seharusnya sudah diterima. Hal ini terjadi karena pemblokiran dari pusat, dan insya Allah minggu-minggu ini akan dibuka pemblokiran yang terjadi. “Alhamdulillah”, ucap seluruh mahasiswa yang hadir. Kementrian agama (Ditpdpontren) selaku penyelanggara PBSB  di Indonesia telah mencanangkan kebutuhan mahasiswa PBSB selama dan pasca kuliah. Sehingga, adanya pembinaan selama S1 adalah sebuah kebutuhan. Sekaligus pasca kuliah S1, diharapkan melanjutkan ke S2. Sudah menjadi rencana dan realisasi awal terkait beasiswa S2 ke Libanon (sekitar 35 mahasiswa) dan program LPDP di luar negeri.
Selain itu, membicarakan mengenai ke-ulama-an yang sekarang harus tetap dipertahankan dan tugas dari Santri. Dari jurusan TP diharapkan mampu atau ikut kontribusi dalam menyelesaikan masalah yang ada di Indonesia. Negara yang plural tapi harus bertahan dengan ke-religius-an di Indonesia. Santri sudah biasa dengan pluralisme, Sehingga bisa mejawab tantangan yang dihadapi bangsa. Komitmen santri yang harus dipegang, yaitu Kebangsaan, Keindonesiaan. Keislaman, Kebudayaan.
Adanya aksi santri diharapkan menjadi salah satu perhatian pemerintah. Sehingga, santri menempati posisi terdepan dan tidak lagi dipandang sebelah mata. Sudah tiba waktunya, santri menjadi pemimpin. Hal ini berangkat dari sebuah harapan terlebih dahulu, lalu aksi untuk merealisasikan. Seperti pesan dari Bapak Dit. PD Pontren, “Harapan berangkat dari mimpi, dan akan diwujudkan. Mimpi, visi, motivasi, dan berakhir pada aksi. Mengaktualisasikan hal diatas merupakan tugas dari makasiswa PBSB itu sendiri.” “Negara bertangung jawab untuk mewujudkan tiga rekognisi, fasilitasi, dan regulasi.” Timpal Beliau (Bapak Jayadi).
Di akhir sesi adalah tanya jawab, dari beberapa mahasiswa PBSB UIN Sunan Gunung Djati Bandung bertanya tentang apa saja yang terkait dengan program beasiswa berprestasi itu sendiri. Meliputi, S2 PBSB, pengabdian, dan pemerataan PBSB di pondok pesantren di Indonesia baik negeri dan swasta.
Berakhirlah pertemuan dengan Bapak Direktur, setelah tersampaikan apa yang menjadi keluh kesah mahasiswa PBSB selama ini. Bapak Jayadi menyambut baik semua kritik dan saran, karena program ini telah mendapat perhatian dan berharap bisa lebih baik kedepannya. Karena termasuk program yang ditunggu-tunggu.
Sebelum meninggalkan aula, ditutup dengan mushofahah bersama. Sungguh terasa nikmat Allah yang nyata.

Atssania Zahroh(Angkatan 2016) , Anggota BSO Jurnalis ORASI CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar