Laman

Minggu, 20 Januari 2019

TELUR DAN AYAM


Sang fajar mulai menyongsong dari ufuk timur meninggalkan sang purnama di ufuk barat. Bersama tetesan embun pagi berlinang kejernihan. Menandakan pagi hari begitu menyejukkan dengan adanya sang mentari yang mulai melukiskan senyuman dalam bingkaian pelangi berwarna-warni. Kala itu Alif dan konco-konconya (teman-temannya) mempersiapkan diri untuk memulai kegiatan belajar mengajar (KBM).
Walau cuaca agak sedikit mendung tapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk memulai hari dengan semangat menggebu. Bel sekolah pun berbunyi menandakan kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Alif merupakan seorang Santri kelas 4 Madrasah Aliyah. Tepatnya duduk di bangku kelas 1 Madrasah Aliyah dan terhitung sebagai Santri yang sangat santun. Dia dididik dari keluarga yang sangat sederhana. Orang tuanya pun memasukkannya ke dalam sebuah Lembaga pendidikan Pesantren. Bertujuan agar dia dapat meneruskan kembali hafalan al-Qurannya yang tidak sempat diulang ketika masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Sampailah Alif dan konco-konconya ke dalam kelas. Pagi itu ia akan mendapatkan pelajaran Mahfudzat. Di kalangan para Santri Mahfudzat merupakan salah satu mata pelajaran favorit. Meskipun metode pengajarannya berbentuk hafalan, bagi mereka bukan hanya sebatas hafalan semata tapi dibalik itu semua mengandung banyak hikmah yang luar biasa pengaruhnya terhadap kehidupan seseorang. Walaupun berbentuk pribahasa-pribahasa bahasa arab, ia hampir mirip dengan al-Qur’an dan al-Hadits apabila diamalkan. Hanya saja ia bersumber dari pengalaman manusia yang belum tentu luput dari kesalahan. Berbeda dengan al-Quran yang merupakan kalam Ilahi sudah barang tentu dipastikan kebenarannya dan al-Hadis yang merupakan perkataan Nabi Muhammad Saw.

Ustadz Hasan pun memasuki kelas untuk mengajarkan pelajaran Mahfudzat, memang Ustadz Hasan merupakan spesialis pengajar mata pelajaran Mahfudzat karena gaya atau metode mengajarnya layaknya sang motivator kelas wahid jadi para Santri pun terasa berada diruangan yang dipenuhi dengan dorongan atau motivasi untuk selalu tetap semangat dalam belajar bahkan menjalani kehidupan ketika berada dalam pengajarannya. Sebelum itu beliau menganjurkan Para Santrinya untuk selalu membaca do’a dan beberapa ayat-ayat al-Quran ketika hendak memulainya. Dengan dalih untuk menjernihkan pikiran para Santrinya.
“Baiklah anak-anak sekarang kita akan mulai pelajaran pagi ini, keluarkan alat-alat tulis dan kitabnya”. Perintahnya kepada para Santrinya dengan nada khasnya yang begitu semangat.
“Iya Ustadz” Jawab para Santri dibarengi senyum merekah.

Kegiatan belajar mengajar pun berlangsung dengan tentram dan tenang. Sampailah kepada Mahfudzat urutan ke-21 yang berbunyi “Baydhatul yaumi khairum min dajaajatil ghaddi (Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari)”. Dari sekian banyak mahfudzat yang telah dipaparkan oleh Ustadz Hasan, hanya kalimat itu yang ditanyakan para Santrinya.
“Ustadz, maaf sebelumnya kenapa kalimat itu berbunyi “telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari” kalo boleh tau maksudnya seperti apa yaah ustadz” Tanya Alif dengan nada santun.
“Iya Ustadz, kenapa ndak “Ayam hari ini aja lebih baik daripada telur esok hari”. ujarnya Ahmad salah satu teman karibnya Alif.
“Oalllaahhh.... kalian ini lhoh opo toh maksude cah-cah (kalian ini maksudnya apa sih teman-teman), wong cuma ayam sama telur aja dipertanyakan kaya ndak ada pertanyaan lain aja opo selain itu”. Timpahnya Inas kepada dua konconya (temannya).
“Lahhh apa yang salah toh dek Inas, wong hanya ingin minta penjelasan yang lebih rinci lagi aja”. Jawab Alif”.
“Lahh lahh ko kalian yang malah jadi berdebat toh cah-cah, wes wes (sudah-sudah)  gini aja yaa ayam sama telur sama aja ndak ada bedanya, gitu aja repot (dengan nada khasnya )”. Ujar Meizar terhadap ketiga temannya.
“Wes wess (sudah-sudah) anak-anak jangan pada berdebat, nanti bapak jelaskan satu-satu terkait kalimat mahfudzat barusan , simak baik-baik yoo”. ucapnya Ustadz Hasan.
“Terkait pertanyaan Alif  “telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari” maksudnya gini yoo anak-anak. Bahwa kita tidak boleh menumpuk-numpuk pekerjaan. Misalnya kalau kita disuruh makan telur hari ini maka kita akan sanggup menghabiskannya, sebelum kita harus memakan seekor ayam di esok hari dan harus habis, tentu kita bisa muntah karena kebanyakan, merasakan enak diawal tapi jika sudah kebanyakan rasa enak itupun akan hilang. Artinya, walaupun hari ini sedikit yang bisa dikerjakan akan lebih baik daripada menunggu banyak lagi di kemudian hari. Semisal lagi kalau kita mendapatkan tugas sekolah, kalau mampu dikerjakan hari itu yaa dikerjakan, jangan menunda-nunda dengan alasan yang tidak pasti. Akibatnya akan menumpuk di kemudian hari atau kalau memang itu belum masuk dalam pemahaman anak-anakku sekalian. Bapak kasih contoh lagi, kita harus memanfaatkan kesempatan atau peluang sebaik mungkin walaupun kecil, manfaatkan segera karena kalau tunggu sampai besok meskipun kemungkinan kesempatan itu besar belum tentu mendapatkannya dan sudah barang tentu kita tidak tau kedepannya masih dalam keadaan seperti apa. Kita harus mensyukuri apa yang kita peroleh hari ini, tidak usah terlalu berangan-angan terhadap sesuatu lebih besar yang belum tentu kepastiannya, gimana anak-anak leress (betul)”. Ucapnya pak Hasan.
“Njihh (iya) Ustadz leres (betul)”. Jawab para Santri.
“Lanjut yang kedua... Adapun yang dipertanyakan oleh dek Ahmad bahwasannya “Ayam hari ini lebih baik daripada telur esok hari?”. Sebenarnya itu juga betul adanya. Mungkin anda terhitung sebagai orang yang beruntung karena mendapatkan sesuatu yang besar hari ini, daripada anda harus menunggu sampai besok padahal yang didapat hanya sebutir telur. Sedangkan apa yang diucapkan oleh  dek Inas dan dek Meizar saya juga tidak mendakwa dengan mengatakan bahwa saudara adalah orang yang tak mau berfikir. Barangkali anda menganggap bahwa kita harus bisa menerima apa adanya bukan ada apanya. Kalau kita mendapatkan telur hari ini kita syukuri saja. Siapa tau esok hari akan mendapatkan seekor ayam. Karena Gusti Allah akan menambah nikmat bagi orang yang bersyukur. Seperti yang termaktub dalam Firman-Nya Q.S.Ibrahim ayat 7. Jadi tidak usah terlalu repot dengan adanya telur atau ayam tersebut karena semuanya adalah sebuah nikmat yang harus patut untuk kita syukuri. Gimana sekarang masih ada yang belum dipahami anak-anak ?”. Tanyanya ustadz Hasan untuk memastikan.
“Paham Ustadz!” jawabnya serentak Para Santri.
“Anak-anakku sekalian! apapun yang kalian katakan dan pahami tentang mahfudzat ini ustadz kembalikan lagi kepada anda masing-masing. Karena itu akan menambah wawasan kepada kita semua untuk tidak berfikiran sempit atau selalu merasa benar sendiri padahal dilain sisi masih ada kemungkinan kebenaran-kebenaran lainnya”.
“Njihhh (iyaa) Ustadz!!!”. Jawab Para Santri dengan mengangguk-ngangguk.
“Pokoknya tetap semangat dalam belajar, ingat pesan orang tua ketika menitipkan kalian ke Pesantren ini. Terkait dengan materi kali ini, Ustadz ada sebuah motivasi yang berkaitan dengan telur. Bahwasannya motivasi terbesar dalam hidup seseorang adalah motivasi dari diri sendiri. Seperti halnya telur bagaimana ia bisa keluar dari kurungan kehidupan cangkangnya. Ketika ia dapat keluar dari kurungan cangkang yang menyandranya, telur mendapat tekanan dari dalam dirinya sendiri. Sehingga apa yang ada dalam isi cangkang telur tersebut dapat keluar dari dalam cangkangnya. Mungkin dilihat secara sekilas, tekanan dari luar telur pun mampu atau dapat mengeluarkan dirinya dari sebuah cangkangnya tapi pecahan itu tak mengalami tekanan yang sangat kuat, karena memungkinkan si telur akan mendapatkan benturan mengenai kontak isi telur tersebut. Bahkan jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar. Maka, kehidupan di dalam telur akan berakhir. Tapi, jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam. Maka, kehidupan baru telah lahir. Hal-hal besar itu selalu dimulai dari diri kita sendiri. Bakat itu hanya 1 persen dan sisanya dengan ketekunan. Baiklah anak-anakku semuanya kita tutup pertemuan pelajaran Mahfudzat kali ini dengan membaca doa kafaratul majlis bersama-sama. Pada intinya motivasi terbesar terdapat pada diri sendiri”. Ustadz Hasan kembali memotivasi para Santrinya.

Pertemuan di kelas kala itu ditutup dengan membaca doa bersama dan membuat Alif, Ahmad, Meizar, Inas dkk menjadi semangat kembali setelah mendapatkan asupan dari sang Motivator Mahfudzat yakni Ustadz Hasan dan bel sekolah pun kembali berdering menandakan pertemuan hari itu selesai dan akan berlanjut pada minggu depan yang akan datang.
Semoga ada Hikmahnya

Ewing Ajha, anggota Bso Orasi 17

4 komentar: