Apa kabar?

Post Top Ad

Jumat, 14 Agustus 2020

Alih-Alih Tunduk, Mengabdi Adalah Sebuah Seni Untuk Menjadi Pemimpin


Pengabdi adalah Pemimpin


“Inisiatif dari lingkup yang tidak dilirik banyak orang”


Buku The 8th Habit (Melampaui Efektivitas, Menggapai Keagungan) yang ditulis oleh Sthepen R. Covey mengisahkan bagaimana memandang dan berperan sebagai pemimpin. Disebutkan bahwa pemimpin bukanlah posisi atau jabatan, tapi adalah pilihan (setiap orang) untuk bertanggung jawab. 


Diceritakan oleh Tom Peters, menggambarkan seseorang yang menerapkan semangat bilah kemudi kecil. Seseorang yang memilih hal yang tidak disukai orang banyak, bahkan tidak dilirik sama sekali. Sebagai contoh, memilih sebagai pesuruh (asisten)—diibaratkan pekerjaan remeh, padahal disitulah lahan untuk berinisiatif. Perlu digaris bawahi, kata inisiatif. Ini yang akan menjadi pembeda dari setiap pribadi atau individu.

 


“Seseorang menjadi asisten rektor, tapi mengeluhkan keadaan rektornya. Kebetulan, dia menemui seseorang yang juga mengenal rektor itu, sama-sama berbagi keluh kesah tentang ketidakpuasan atau kekurangan rektor. Setelah dua orang yang telah mengenal rektor itu berdiskusi, ada pendatang baru, bernama Ben. Ben sama halnya posisi dua orang (asisten/pesuruh), hanya saja Ben baru beberapa hari (orang baru), dibanding dua orang sebelumnya. Ben berinisiatif menghubungi dosen (rektor), mencoba mencari apa yang sedang dibutuhkan oleh rektor. Lantas mengadakan janji untuk bertemu. Ben bertemu dosen dengan membawa bekal, gagasan untuk penyelesaian masalah yang dihadapi rektor tersebut. Ben meminta ijin untuk menjelaskan konsepnya. Dari presentasinya itu, diangkat ke rapat dewan. Ben termasuk orang baru, namun dengan gagasannya yang tepat, serta penyampaian yang sesuai, tidak menutup kemungkinan dapat sejajar atau lebih dari asisten yang sudah 4 tahun bersama rektor itu.” 


Dari ilustrasi tersebut, diperoleh nilai “Mengetahui kelemahan bos (atasan), tidak melulu dikeluhkan. Namun mengetahui ‘kenapa’, Si Bos bisa demikian. Maka ditemukanlah celah, ‘apa yang bisa diperbuat, dibantu untuk dilakukan’.”


Dalam buku karya Stephen R. Covey dijelaskan, praktik ‘Semangat Bilah Kemudi Kecil (seseorang yang tidak memiliki jabatan, bisa menggerakkan dan membuat perubahan), tidak lain dengan inisiatif. Diri berani mengambol langkah dan resiko. Bukan masalah pemimpin, yang sering dalam pandangan umum, suatu posisi. Pemimpin adalah diri, pemderdayaan diri sendiri, untuk melakukan yang terbaik, memberikan yang terbaik, sekalipun dalam tingkatan atau lingkup yang kecil (dalam contoh: peseuruh/asisten).


 “Berikan kepada dunia yang terbaik yang Anda miliki dan mungkin Anda akan terluka. Bagaimanapun juga, berikan yang terbaik.”

-Bunda Teresa-


**


Semangat Bilah Kemudi Kecil Ala Mahasantri PBSB


Pengabdian masih lekat dan tidak dapat dipisahkan dengan PBSB (Penerima Beasiswa Santri Berprestasi). Pengabdian masih terus menjadi isu, banyak respon, diantaranya: semangat untuk kembali ke pondok asal, atau memilih studi dan mengabdi secara jarak jauh, dan ada yang tidak memenuhi pengabdian tersebut.


Fenomena di atas, bukan perihal pondok pesantrennya saja. Namun semua aspek, salah satunya pengabdian adalah kembali kepada mahasantri atau pribadi. Ketika pengabdian, sudah menjadi ikrar ketika mengambil dan menyetujui mengambil PBSB, adalah merupakan hutang yang harus ditunaikan kelak, dalam konteks ini adalah setelah menyelesaikan studi S1. 


Mengabdi, memiliki arti menghambakan diri, berbakti, sungguh-sungguh mengabdikan diri pada suatu (contoh: pesantren), tidak serta merta menganggap remeh, sebagai pesuruh, atau melakukan apapun tanpa imbal balik. Pengertian ini hanya secara kulit luar, padahal mengabdi sendiri memiliki inti dan arti yang mulia. Untuk pengaplikasiannya ini bisa dengan “Semangat Bilah Kemudi Kecil”.


Mengabdi: “Masuk pada Celah yang Mungkin Sebagian Orang Tidak Melirik atau Menekuninya.” Dengan bekal, dari perguruan tinggi serta niat (panggilan hati) memenuhi tanggung jawab, maka akan menjadikan seseorang itu berkembang dan maju. Secara konkrit, ketika sudah lulus dari perguruan tinggi, kembali ke pesantren untuk sowan (silaturahmi, memberi tahu bahwasannya sudah selesai menjalankan studi S1), mengutarakan niat baik, dan meminta ijin untuk mengabdi memenuhi tanggung jawab. 


Meskipun proses awal, tidak sesuai keinginan, dimana keinginan untuk bisa terjun ke masyarakat atau berkarir, studi lanjut, bukan hal spele jika memilih untuk mengabdi. Setelah komunikasi, maka akan diarahkan oleh pihak pesantren dan dengan niat baik bisa mengusulkan program di pesantren.


Sekilas di atas, terlihat sederhana. Namun tetap disadari, setiap orang memiliki tantangan dan medan (garapan) berebeda. Misalkan dari tanggapan pesantren yang berbeda-beda. Ada yang menyambut, ada yang sebaliknya. Perihal itu, bukan ranah pribadi santri PBSB. Karena yang menjadi fokus adalah diri mengabdi dan berniat untuk berkontribusi. Ketika pihak pesantren tidak sesuai atau tidak menerima, merupakan hasil atau hak pesantren. Akan tetapi yang diusahakan atau dilakukan adalah, membekali diri untuk menghapus stigma pengabdian, mungkin bagi beberapa orang mengeluhkan. Padahal, pengabdian adalah untuk dinikmati dan dijalani, bukan untuk disambati (saja).


Semangat untuk santri PBSB. Dari buku Stephen R. Covey, mengajak diri untuk tetap menghargai dan menekuni segala bidang, dari bidang kecil (remeh). Namun dari hal kecil, dan dari diri bisa menjadikannya besar. Tidak hanya pengabdian, tapi disegala aspek kehidupan. Menjadi pemimpin, bukan berarti jabatan melainkan tanggung jawab diri untuk diri bisa berkembang lebih baik, lebih-lebih bisa berkontribusi. Bersyukur bisa mengabdi di pesantren, jika tidakpun tetap siap mengabdikan diri dalam bermasyarakat setelah selesai studi. Begitu mulianya, diksi ‘Mengabdi’.


Santri Siap Mengabdikan Diri dalam Segala Lini

Atssania Zahroh, S. Ag