Apa kabar?

Post Top Ad

Rabu, 16 September 2020

Digital Amnesia: Atasi dengan Teknik Swish Pattern

 




Sebelum kita bahas mengenai Digital Amnesia dan Teknik Swish Pattern, apakah kalian ingat film bollywood “Ghajini”? Film rilisan 2008 yang menjadi film india terbaik sepanjang masa sebelum dikalahkan oleh film Aamir Khan yang lain di tahun berikutnya, 3 Idiot.

Setiap pagi Sanjay Singhania bangun tidur dan beranjak dari kasurnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Sampai ia menemukan berbagai note di wastafle, di dinding, tato di tubuhnya, dan foto-foto yang ia tempel sendiri di dinding rumahnya yang digunakan untuk mengingatkan dirinya sendiri.Bahwa kekasihnya telah dibunuh dan Ghajini adalah orang yang bertanggung jawab atas semuanya. Ia harus membunuhnya.

Sanjay memiliki gangguan Amnesia Anterograde dimana ia tidak dapat membuat ingatan baru, ingatannya akan hilang setelah 15 menit. Sebab memori internal-yaitu otaknya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dengan cerdas ia membuat memori eksternal yang bisa mengingatkan tujuan balas dendamnya dalam bentuk foto-foto, note, dan tatonya tadi.

Maksud saya menceritakan kisah Sanjay tersebut adalah untuk mengingatkan bahwa kita masih mempunyai otak normal untuk menyimpan memori. Maka idealnya kita harus bertanggung jawab untuk menggunakannya sebaik mungkin dan yang terpenting yaitu bahwa itu menjadi bentuk rasa syukur atas Dzat yang memberikannya kepada kita.

Sedari dulu kita memang sudah menggunakan memori eksternal untuk membantu kita baik berupa buku-buku atau note yang kita tempel di depan meja belajar. Tapi kita tidak perlu sampai bergantung kepadanya karna kita masih mempunyai otak untuk menyimpan infomasi-informasi. Berbeda dengan karakter Sanjay tadi yang mengidap amnesia anterograde.

Namun semenjak era digital sudah merambah pesat di setiap kalangan, penggunaan teknologi digital dalam pengolahan informasi menjadi pengaruh krusial. Orang-orang modern menggunakan kemampuan digital untuk menyimpan informasi sebagai memori eksternal. Kita bisa dengan mudah menyimpan informasi dan menemukannya pada laptop, smartphone, internet dan semacamnya.

Lebih jauh, internet yang memudahkan kita untuk mencari informasi apapun membuat kita semakin tergantung dan bahkan menjadi tidak percaya diri terhadap kemampuan otak sendiri untuk mengingat informasi yang sebelumnya perrnah didapatkan.

Apa Itu Digital Amnesia

Digital Amnesia atau juga biasa disebut Google effect, Google Amnesia adalah kecenderungan melupakan informasi yang bisa di akses melalui mesin pencari secara online. Seperti yang kita tahu bahwa kita dapat menemukan seakan semua hal dalam internet, lalu apakah kita akan melupakan itu semua dan hanya mengingat bahwa ingatan kita ada dalam perangkat digital kita. Sebagai contoh kita lupa nama gunung yang akan kita ceritakan kepada teman bahawa seberapa bagusnya gunung itu. Tapi kita ingat situs dimana kita apat menemukan nama gunung tersebut.

Fenomena ini pertama kali diperkenalkan oleh B. Sparrow, Jenny Liu, dan Daniel M. Wegner dalam jurnalnya pada tahun 2011. Hasil dari penelitian mereka menyatakan bahwa pikiran orang akan menuju komputer ketika ditanya pengetahuan umum bahkan ketika mereka mengetahui jawabannya, selain itu orang cenderung melupakan informasi yang mereka yakin sudah tersimpan dan dapat dicari lagi nanti. Terakhir, mereka juga menemukan bahwa jika orang mendapatkan informasi mereka akan cenderung mengingat tempat disimpannya informasi itu dan bukan mengingat informasi itu sendiri.[1]

Istilah Google Amnesia sendiri diperkenalkan oleh Kespersky Lab, Sebuah perusahaan perangkat digital dalam laporan hasil sureynya terhadap 100 pelanggan kisaran usia 16-55 tahun di tahun 2015.[2] Pada intinya Google Amnesia terjadi jika kita telalu bergantung dengat perangkat digital, terutama internet dimana kita tidak lagi mau repot-repot mengingat informasi yang sudah tersimpan di perangkat digital. Mungkin beberapa dari kita masih mengingat nomor telepon rumah atau orang tua kita ketika berumur 15 tahun, karena saat itu kita harus mengingatnya dalam otak. Sedangkan sekarang nomor pacar saja tidak hafal padahal sangat sering dihubungi, atau nomor dosen pembimbing yang jawaban chat-nya kita tunggu-tunggu pun juga tidak hafal.

Kamu bisa menjadi seperti Sanjay, bangun pagi tanpa memikirkan apa-apa sampai ada notifikasi dari smartphone-mu yang mengatakan bahwa hari ini adalah hari pertama kamu bekerja, lalu kamu mencari tips “kerja dihari pertama”melalui Google dan bergegas ke tempat kerja menggunakan Google Maps untuk penunjuk jalan. Kamu benar-benar melupakan semuanya kecuali bahwa semua ada dalam perangkat digitalmu. Kamu benar-benar sudah melupakan semua. Apa juga perlu untuk memasang alarm sarapan sebelum berangkat kerja? Mungkin itu sedikit berlebihan tapi saiapa yang tahu?

Goole Amnesia tentu saja berbahaya. Bagaimana kalau dalam keadaan darurat dan kita tidak dapat menghubungi siapapun karena kita tidak pernah hafal satupun nomor teman atau keluarga?

Bagaimana Mengatasinya?

Apakah kalian merasa mengalami digital amnesia, lalu bagaimana cara untuk mengatasinya. Jika kita lihat sebab dari digital amnesia ini adalah kebiasaan buruk yang sadar maupun tidak telah membuat bergantung kepada perangkat digital untuk menyimpan informasi yang seharusnya dapat kita ingat. Dampak dari ini adalah berkurangnya kemampuan otak kita untuk mengingat informasi. Seperti halnya otot yang akan lumpuh jika kita tidak pernah mengggunakannya sama sekali. Tentu kita tidak mau jika otak kita turut lumpuh.

Karena dalam hal ini yang diserang adalah kemampuan otak kita maka cara yang ampuh adalah untuk melatih otak kita agar tetap bekerja. Bisa dengan senam otak atau latihan-latihan memori lainnya.

Anthony Metivier, penggagas “Magnetic Memory Method” memiliki tips untuk mengatasi digital amnesia.[3] Yaitu dengan cara membangun konsentrasi. Alih-alih langsung menggunakan internet untuk mencari sesuatu berilah otak waktu untuk mengingat informasi tersebut. Karena mengingat sama dengan konsentrasi maka tanpa konsentrasi anda tidak bisa mengingat. Selain itu Anthony memberikan saran untuk diet informasi dari internet. Memberikan minimal satu jam dalam sehari untuk diet informasi dan menggunakan waktu itu untuk melatih kemampuan otak untuk mengingat.

Teknik Swish Pattern

Karena ini merupakan pembentukan kebiasaan baru atas kebiasaan buruk sebelumnya tentu saja akan berat. Dalam ilmu Neuro-Linguistic Programming (NLP) ada teknik yang disebut Swish Pattern. Dian Saputra mengatakan bahwa teknik ini efektif untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan buruk dan membentuk kebiasaan baru.

Pertama-tama carilah tempat yang nyaman agar bisa rileks dan berkonsentrasi. Lalu mulai bentuk bayangan yang merepresantikan kebiasaan buruk. Ingat hal-hal yang memicu kepada kebiasaan buruk tersebut. Dalam bentuk visual misalkan, Gambaran apa yang membuatmu ingin menggunakan internet? notifikasi Youtube, logo Google dll. lalu dalam bentuk audio apa yang menorong untuk berinternet? Suara iklan atau mendengarkan musik yang lupa judulnya dll. terakhir dalam benntuk kinestetik(perasaan), bagaimana perasaan ketika hal itu terjadi? Menggebu atau seperti ada yang mendorong dalam dada.

Kedua, setelah itu bangun bayangan representasi kebiasaan yang diinginkan dengan teknik yang sama, pemicu visual, audio dan kinestetik. Dalam hal ini silahkan bayangkan tips dari Anthony tadi sebagai bentuk kebiasaan baru. Lalu pastikan dalam diri anda tidak ada yang keberatan dengan perubahan ini. Namun, jika kamu memiliki usulan “kebiasaan baru” yang lebih “masuk” untuk dirimu, itu akan lebih baik.

Ketiga, hubungkan kedua bayangan tersebut dalam satu frame (anda bisa menggunakan gambaran layar atau papan tulis) dan bayangkan bingkai kebiasaan buruk tadi tergamar besar di frame itu dan bingkai kebiasaan yang diingginkan ada kecil di pojok kanan atas.

Keempat, secara cepat buat agar bingkai pertama mengecil dan gelap sedang bingkai kedua kian membesar, terang, jelas dan memenuhi seluruh frame dan Swiishh kebiasaan buruk tersebut hilang dari frame. Ulangi langkah ini 4-6 kali.[4] Langkah-langkah tersebut dapat mengatur ulang mind-set kita terhadap kebiasaan kita.

Cara mengatasi digital amnesia yang telah saya paparkan hanya salah satu jalan yang bisa dicoba. Bukan berarti ini hanya satu-satunya cara yang bisa digunakan. Barangkali masing-masing dari kita memiliki cara masing-masing yang lebih cocok. Yang terpenting adalah bahwa kita tidak perlu bergantung kepada internet atau perangkat digital lainnya. Syukuri rezeki akal yang telah diberikan Allah SWT dengan cara menggunakan akal kita sebaik mungkin. Menjaga otak kita adalah tanggung jawab moral yang harus dilakukan.

Imam Khoiri adalah Mahasiswa PBSB UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2017. Lahir di Blitar tanggal 30 Maret 1999.



[1] Betsy Sparrrow, et al. “Google Effect on Memory: Cognitieve Concequences of Having Information  at Our Finger”. Science vol.333, 2011, 776-778

[2]Kasperskay Lab. The Rise and Impact of Digital Amnesia: Why We need Protect what we no longer remember. 2015  (https://drive.google.com/file/d/1eQnQtZ6JONmsdQHU1tvuEzvpl6byshPj/view?usp=sharing)

[3] Anthony Metivier, “Digital Amnesia: 5 Ways to Stop Google from Ruining Your Memory”  (https://www.magneticmemorymethod.com/digital-amnesia/ diakses pada 31 Agustus 2020)

[4] Dian Saputra, Ternyata Kunci Bahagia itu Ada NLP, Nizamia Learning Center, 2017, 121