Apa kabar?

Post Top Ad

Rabu, 16 September 2020

PERAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI DI MASA PANDEMI COVID-19

 بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

ESSAY

                    PERAN TASAWUF DAN PSIKOTERAPI DI MASA PANDEMI COVID-19

Fahmialaudin441@gmail.com

 

PENDAHULUAN

Publik dunia belakangan ini sibuk menyimak pemberitaan tentang mewabahnya virus corona. Wabah ini kali pertama diumumkan pada tanggal 31 Desember 2019, bermula dari kota Wuhan, Tiongkok dan dalam hitungan hari telah menyebar hingga ke 16 negara. Hingga kini WHO melaporkan telah lebih dari 107 orang meninggal dunia dan 4.474 orang terinfeksi. Tak heran jika virus corona ini menjadi ancaman serius bagi dunia.

Virus corona menyebar seperti virus influenza pada umumnya, yaitu melalui batuk dan bersin orang yang terinfeksi. Penularan virus corona ini bisa terjadi lewat sentuhan tangan, wajah, dan pegangan pintu atau bagian lain yang umum disentuh oleh penderita. Menteri Kesehatan Menkes Terawan Agus Putranto meminta masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar terhindar dari virus ini. Pencegahan ini dianggap cara terbaik karena hingga kini belum ada obat dan vaksin yang bisa mencegah virus ini.

Virus corona ialah virus yang menyerang sistem pernafasan, pneumonia akut, sampai kematian. [1]Virus ini juga merupakan jenis virus baru dari corona virus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik lansia, orang dewasa, anak-anak, bayi, ibu hamil maupun ibu menyusui. Infeksi virus ini disebut dengan COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus corona ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan beberapa negara, termasuk Indonesia.

Virus corona adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernafasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernafasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga dapat menyebabkan infeksi pernafasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Menurut Syahrul Kirom, M.Phil, tatkala tasawuf dikaitkan di tengah bencana seperti Covid-19, cara pandang tasawuf biasanya berbeda. Menurut ilmu tasawuf bahwa bencana berupa ketakutan (al-khauf), karena wabah virus Corona atau bencana alam seperti, kelaparan, krisis ekonomi, ancaman keselamatan jiwa serta krisis pangan, tak lebih dari sekedar ujian yang hanya perlu direspon manusia dengan bersikap sabar, tidak panik, apalagi menciptakan masalah baru.

Itulah protokol bencana [2]berdasarkan ilmu tasawuf, tentu tanpa mengesampingkan ikhtiar. Ikhtiar itu sama pentingnya dengan berdoa. Berdoa itu sama pentingnya dengan ikhtiar. Dengan adanya Virus Corona yang membuat heboh sebagaian penghuni bumi ini, Allah mengingatkan kita terhadap kematian yang merupakan fase historical necessity, keniscayaan sejarah sebagaimana ziarah kubur juga diharapkan sebagai media pengingat kematian.

Selain itu, wabah pandemi Covid-19, dalam artian tasawuf sangat penting ditengah pandemi ini, ada beberapa tafsiran mengenai arti penting tasawuf itu sendiri, seperti dengan adanya pandemi ini kita diharuskan mensucikan diri secara lahiriah seperti berwudhu atau membersihkan cuci tangan namun juga membersihkan secara bathiniah dari penyakit bathin, mensucikan ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai pengatur batas waktu pandemi ini akan berakhir, kita juga dituntut untuk senantiasa berprasangka baik kepada Allah mengenai turunnya pandemi ini, artinya mungkin saja Allah ingin kita lebih mengingatnya, lebih mendekatinya dengan cara menurunkan wabah yang menghentikan sejenak kegiatan kita.

ISI

Tasawuf dalam tradisi sufi dikenal istilah Uzlah (mengasingkan diri) dan Khalwat (menyendiri). Tujuan beruzlah ini agar umat manusia selalu bertafakur kepada Allah. Oleh karena itu, di tengah wabah pendemi Covid-19 ini, makna uzlah dan khalwat dapat dimaknai menjauhkan diri dari tempat-tempat keramaian, kerumunan yang dapat membahayakan nyawa sendiri, karena di tengah keramaian itu terdapat sumber penyakit lahir maupun penyakit bathin. Khalwat yang dilakukan dalam waktu yang panjang maka disebut uzlah.

Perilaku inilah yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia. Tidak ada langkah yang lebih baik dan lebih tepat dalam berjihad melawan terjangan pandemi Covid-19 kecuali uzlah dan khalwat. Dalam konteks ini, bisa ditegaskan bahwa uzlah dan khalwat adalah cara paling efektif dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. Uzlah dan khalwat dalam konteks ini dimaknai isolasi social distance maupun jika diperlukan lockdown. Inilah khalwat dan uzlah, doktrin tasawuf yang mesti harus dipraktikkan dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dengan melakukan berkhalwat dan beruzlah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah sesungguhnya kita sedang melakukan hal-hal yang ilmiah yang diterima akal sehat. Kita bisa beribadah dan taqarrub kepada Allah di bilik rumah.

Menurut Dr. Cucu Setiawan, S.Psi.I.,M.Ag. sangat penting sekali sikap tawakal yang harus kita implementasikan ditengah pandemi Covid-19 ini. Menurut beliau Pemaknaan tawakal apabila dijabarkan pada zaman pandemi sekarang itu sangat luas sekali pemaknaannya. Tawakal bukan hanya berdiam diri dan langsung keluar tanpa ada persiapan dan lain sebagainya. Akan tetapi yang namanya tawakal adalah memberikan atau memaksimalkan ikhtiar keduniaan, kesehatan kita dari mulai cuci tangan, pakai masker, social distancing, berwudhu, kemudian setelah itu baru bertawakal kepada Allah.

Karena itu kita sudah melakukan ihtiar dengan semaksimal dan sebaik-baik mungkin sesuai dengan apa yang menurut akal pemikiran kita bagus, setelah itu baru tawakal. Kenapa perlunya bertawakal, Karena memang apabila sekarang kita tidak diiringi dengan tawakal apalagi dalam pandemik Covid-19 sekarang, maka itu yang ada ke khawatiran tingkat tinggi. Apabila nanti kita mempunyai khawatiran tingkat tinggi, terus apa-apa khawatir dan sebagainya, hal tersebut malahan yang akan menjadikan kita menjadi sakit.

Tapi apabila kita sudah bertawakal kepada Allah, menggantungkan segalanya kepada Allah, Iyyaa Kana’ Buduu Waa Iyyaa Kanas Ta’aiin kepada Allah, meminta pertolongan dan menyembah kepada-Nya. Jadi menggantungkan apapun tetapi tetap kita harus memaksimalkan ikhtiar duniawi, akal dan pikiran kita.

Sementara itu, dalam prespektif tasawuf akhlaqi, umat Islam harus tetap tenang dan patuh terhadap ulama-ulama dan pemerintah di Indonesia, ini adalah suatu hal yang harus kita patuhi, ini termasuk akhlaq yang mematuhi sama ulama. Dan yang terakhir dalam prespektif tasawuf amalih adalah kita harus terus berdoa dan Istiqomah terhadap ibadah kita sehingga virus yang sedang besar ini tidak masuk terhadap tubuh kita, dan kita harus berdoa supaya wabah ini cepat diangkat dan dihilangkan dari dunia ini.

Karena itu, makna terapi melalui tasawuf ditengah wabah virus Corona-19 ini sangat diperlukan bagi umat Islam di Indonesia, karena tasawuf mengajarkan kita untuk mengolah jiwa serta menenangkan diri, tidak panik, tidak galau dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah. Pada saat seperti sekarang ini ketenangan jiwa sangat diperlukan, karena dengan jiwa yang tenang, lebih efektif untuk meningkatkan daya tahan tubuh lahir maupun bathin untuk menangkal virus corona agar tidak terpapar dan dijauhkan dari penyakit virus corona tersebut.

Sementara peran dari psikoterapi dimasa pandemi Covid-19 ini sangat penting sekali diperlukan oleh beberapa ahli kedokteran penanganan sementara pasien yang terkena Covid-19. Ada dua macam terapi yang dipakai oleh dokter untuk menangani dan menimalisir sementara pasien Covid-19 yaitu terapi umum dan terapi kasus parah dan kritis. Pada terapi umum ini ialah ada beberapa langkah yang harus dilakukan pasien yang terkena covid-19 untuk pengobatan terapinya ialah sebagai berikut

  1. Istirahatkan pasien di tempat tidur, tingkatkan terapi suportif, dan pastikan nutrisi yang adekuat. Jaga keseimbangan air dan elektrolit untuk memelihara stabilitas kondisi internal. Awasi dengan cermat tanda vital, saturasi oksigen, dan sebagainya.
  2. Evaluasi darah rutin, urin rutin, CRP, indikator biokimiawi (enzim hati, enzim miokardial, fungsi ginjal, dan sebagainya), fungsi koagulasi, analisa gas darah arteri, rontgen dada, dan sebagainya sesuai kondisi pasien. Jika memungkinkan, lakukan tes sitokin.
  3. Berikan terapi oksigen yang tepat dan efektif secara terukur, antara lain nasal kanul, masker oksigen, terapi nasal oksigen aliran tinggi.

Sedangkan pada terapi kasus parah dan kritis ini prinsip Terapi yang harus dilakukan oleh pasien covid-19, antara lain Terapi dilakukan secara simptomatik, aktif mencegah komplikasi, juga terapi penyakit yang menyertai, mencegah infeksi sekunder, dan memberi dukungan (support) fungsi organ secara tepat. Sementara dalam kajian ini, tidak lupa untuk lampirkan hikmah virus corona dalam lensa psikoterapi karena hal tersebut sangat penting sekali diketahui oleh orang-orang. Salah satunya menurut yang dikemukakan oleh Dadang Ahmad Fajar, M.Ag.  salah satu dosen pengampu Mata Kuliah Psikoterapi di Uin Sunan Gunung Djati Bandung mengatakan bahwasannya salah satu hikmah virus corona dalam lensa psikoterapi adalah banyak manfaat akibat adanya corona ini orang-orang bisa berTauhid kepada Tuhan, karena ilmu pengetahuan sekarang merasa kesulitan tidak ada jalan lain kecuali dia mempersiapkan diri dengan Tuhan, artinya rekayasa apapun sekarang sedang dalam kondisi minim, dan kecemasan orang itu harus bertemu Tuhan.

KESIMPULAN

Virus corona ialah virus yang menyerang sistem pernafasan, pneumonia akut, sampai kematian. Virus ini juga merupakan jenis virus baru dari coronavirus yang menular kemanusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik lansia, orang dewasa, anak-anak, bayi, ibu hamil maupun ibu menyusui. Infeksi virus ini disebut dengan COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Virus corona ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke wilayah lain di Cina dan beberapa negara, termasuk Indonesia.

Tatkala tasawuf dikaitkan di tengah bencana seperti Covid-19, cara pandang tasawuf biasanya berbeda. Menurut ilmu tasawuf bahwa bencana berupa ketakutan (al-khauf), karena wabah virus Corona atau bencana alam seperti, kelaparan, krisis ekonomi, ancaman keselamatan jiwa serta krisis pangan, tak lebih dari sekadar ujian yang hanya perlu direspon manusia dengan bersikap sabar, tidak panik, apalagi menciptakan masalah baru.

Sementara peran dari psikoterapi dimasa pandemi Covid-19 ini sangat penting sekali diperlukan oleh beberapa ahli kedokteran penanganan sementara pasien yang terkena Covid-19. Ada dua macam terapi yang dipakai oleh dokter untuk menangani dan menimalisir sementara pasien Covid-19 yaitu terapi umum dan terapi kasus parah dan kritis.

 



[1] https:/www.alodokter.com

[2] https:jalandamai.org(tasawuf dan wabah Covid-19)