Apa kabar?

Post Top Ad

Selasa, 06 April 2021

KAPAN MUNCULNYA TASAWUF ?



   

      Tasawuf dalam Islam bukanlah hal yang baru, tetapi menjadi dasar ajaran Islam sejak masa Rasulullah Saw. di antaranya ialah perilaku sufistik yang menjadi tradisinya. Kata tasawuf mulai terkenal pada abad 3 H. Sabda Nabi Muhammad Saw mengenai tiga dimensi agama Islam ialah islam, iman dan ihsan. Lebih lanjut mengenai hal tersebut, menurut Syekh Kamba terdapat empat topik utama, yakni tiga di antaranya ialah tiga dimensi yaitu Islam atau kepasrahan diri, Iman atau kepercayaan dan Ihsan atau aktualisasi diri. Dan satu topik lagi yaitu mengenai hari kiamat, tetapi Rasulullah Saw. tidak bersedia untuk menjelaskannya.

        Dalam dimensi Islam atau kepasrahan diri sangat esensial dalam mendidik diri untuk selalu rendah hati dan menjaga tatanan sosial dalam berkehidupan. Ketika individu mampu untuk berpasrah dan berserah diri, maka ia telah menjadikan Allah Swt. sebagai proses kehidupannya. Adapun beberapa hal yang terkait pada dimensi Islam mencakup pada rukun Islam, yakni syahadatain atau penyaksian, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.

        Selanjutnya dalam dimensi iman, individu yang mempunyai keimanan yang baik akan berdampak pada perilaku mencintai sesama manusia dan semua makhluk di alam semesta karena semua itu ialah makhluk Allah Swt. Selain itu juga akan mengerjakan amal kebaikan sehingga membentuk pada intuisi keagamaan yang tajam. Keimanan akan berdampak pada rasa aman dan damai pada jiwa individu.

        Pada dimensi ihsan atau intuisi keagamaan, sangat berkaitan dengan dimensi sebelumnya, islam dan iman. Karena dengannya, dapat memperkuat rasa ihsan pada diri seseorang. Ihsan ialah menyembah Allah Swt. seperti engkau melihat-Nya, tetapi jika engkau tidak melihat-Nya, maka berkeyakinanlah bahwa Allah Swt. melihatmu.

       Dalam tradisi sufisme, metodologi yang tepat untuk memahami Al-Quran yaitu dengan cinta atau mahabbah, sebab semua orang pasti pernah mengalami jatuh cinta. Maka ketika seseorang mengalaminya, hal itu akan menjadikannya bertransformasi diri sehingga potensi-potensi yang dimilikinya melampaui kapasitas dirinya yang sebelumnya.

      Mengenai asal-usul tasawuf, tentunya memunculkan perdebatan pada umumnya sehingga diambil menjadi dua bentuk, yaitu:

      Dari segi terminologi, yakni dari akar kata serta catatan-catatan sejarah terkait munculnya kata “tasawuf” tersebut. Dari segi ajaran, yakni dengan melihat pada tokoh tasawuf ataupun dari kemungkinan persinggungan yang terjadi dengan tradisi lain.

    Pada zaman Rasulullah Saw. terminologi tasawuf memang belum ada tetapi dalam kenyataannya pada kehidupan di zaman tersebut dijamin sudah sangat terealisasikan baik itu akhlak maupun ajarannya, sebab Rasulullah Saw. merupakan sumber rujukan utama tasawuf. Pada abad satu dan dua Hijriyah juga belum ada ilmu yang membahas mengenai ilmu tasawuf, namun praktiknya sudah terlihat jelas dilakukan.

      Pada abad satu dan dua Hijriyah terdapat faktor munculnya gerakan asketisme menurut Abu Al-Wafa Al-Ghanimi Al-Taftazani, yaitu:

  1.   al-Quran dan sunnah
  2. kondisi sosial politik

Asketisme dipandang sebagai ajaran menjauhkan diri dari dunia. Namun dalam Islam, asketisme ditimba dari al-Quran, sunnah Nabi dan para sahabat. Asketisme Islam lebih kepada pengendalian diri dari keterpengaruhan duniawi dan hawa nafsu.

Setelah periode asketisme, abad ketiga Hijriyah tasawuf memiliki objek, metode dan tujuannya yang berbeda dari ilmu lain serta terdapat perdebatan antara teori fana’ dan baqa’. Mengenai hal ini, para sufi terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

1 aliran para sufi yang pendapatnya moderat

2.  aliran para sufi yang terpesona dengan keadaan fana’


Beberapa karakteristik yang membedakan antara ilmu tasawuf dan ilmu lain serta dengan bentuk asketisme sebelumnya ialah:

1.      tasawuf sebagai makrifat

2.      tasawuf sebagai moral agama Islam

3.    Fana’, yang pada abad ketiga dan keempat para sufi terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:

   - kelompokyang berpegang teguh pada syariat (Abu Sa’id al-Kharraz, Abu al-Qasim al-Junaid)

     - kelompok yang cenderung menyatakan berlangsungnya penyatuan atau hulul (Abu Yazid al-Busthami, al-Hallaj).


            (Sumber: Perkuliahan Tasawuf Kontemporer (Jumat, 26/03) bersama Pak Maulani, M. Ag)



 

ds_mulyani