Laman

Kamis, 23 April 2015

Jadi Hamba Tuhan Serba Nggak Pede?

Oleh: Yudi Prayoga
Zaman semakin modern dan lebih dari modern, segala alat teknologi dapat disajikan secara praktis penuh kenikmatan, segala budaya melintasi simbol budaya, segala ilmu pengetahuan dengan mudah melintasi daratan dan lautan, semua ingin berlomba-lomba mengubah peradaban. Namun disayangkan, di balik serba kebebasan mereka, kita, banyak yang serba tidak pede (percaya diri) dengan berbagai keadaan, tidak pede dengan dirinya sendiri, dengan bangsanya, dengan kepercayaanya, dengan budaya leluhurnya. Lalu, apakah kita malah nggak pede dari kepedean, atau karena gengsi dari kepunyaan? Untuk itu, ada hal-hal yang perlu dijabarkan.

1.      Gak Pede Jadi Diri Sendiri
Menjadi diri sendiri adalah kebanggan setiap manusia yang hidup maupun yang tidak hidup. Sebagai mana Tuhan telah menciptakan kita semua berbeda-beda karakter dan kreatif imajinasinya untuk saling mengenal, melengkapi, mempelajari, bukan memaksa meniru keadaan dan keinginan seseorang. Walaupun kadangkala kita meniru itupun tidak akan sama seperti yang ditiru, jangan samakan antara aku dan dia, karena memang kita mahluk yang berbeda tak akan pernah sama dan hanya Tuhan yang tahu seluruhnya tentang kita. 

Oleh karena itu ketika kita melihat keragaman bentuk dan keragaman wujud materi dan imateri seolah-olah kita minder dan nggak pede dengan diri kita sendiri, apalagi ada yang lebih pada yang lain dan tidak ada pada diri kita. Hal ini-lah yang sering membuat mandek keadaan kita, tidak mau melakukan hal-hal yang dapat kita lakukan. Sehingga nggak pedenya dengan diri sendiri, kita enggan mengakui potensi baik yang diberikan Tuhan dan tidak mau bersyukur atas nikmat-Nya. Sejak zaman azali Tuhan telah membekali kita dengan potensi takdir supaya kita berkausalitas kepada-Nya, serta supaya mengetahui ada kekuatan yang dahsyat di dalam setiap diri manusia yang jika diungkap akan melebihi segala hal kecuali Tuhan. 

Jika kita mengetahui catatan semesta raya yang telah tercatat sejak awal dan kokoh tidak pernah robek, maka kita tidak akan mau menjadi orang lain, karena kita mengetahui pilihan yang tepat untuk diri kita sendiri, meskipun ketika catatan tersebut dihembuskan pada segelintir orang, maka orang tersebut akan mengetahui peran dirinya dalam tubuh dirinya sendiri di dunia.

Banyak suasana alam yang dapat kita ambil pelajaran, seperti seorang petani yang diberikan potensi bertani pasti tidak mau ingin menjadi politikus, sebaliknya seorang yang diberikan potensi politik tidak mau ingin menjadi tukan ojek, karena memang bukan wilayah potensinya.

Jadi, bagi mereka yang pede menjadi dirinya sendiri pasti akan pede juga melakukan aktivitas sehari-harinya, mensyukuri setiap yang diberikan Tuhan kepadanya, tidak akan mengeluh dan meratap sehingga banyak mengatakan “Tuhan tidak adil”, yang tidak adil itu Tuhan apa diri kita, karena diri kita tidak adil dalam memahami kehendak-Nya. Pedelah dengan diri kita sendiri selagi memang itu baik dalam pandangan manusia, alam dan Tuhan. Karena kehidupan itu tidak lepas dari yang namanya senang dan sedih, siapapun orangnya, apapun pangkat dan jabatanya, baik presiden, kyai, ulama, pastur, perampok, anak punk, dan sebagainya.

Ketika presiden memberikan suatu hukum sehingga hukum tersebut ditaati dan dijalankan rakyatnya, maka presiden akan senang, namun ketika hukum dilanggar maka presiden akan sedih. Juga seperti kyai, ketika kyai dititipi anak dijadikan sebagai santri maka sang kyai akan senang dan sebaliknya ketika santrinya banyak yang melanggar hukum pesantren maka kyai pun akan sedih. Perampok juga, ketika mendapat hasil rampokan yang banyak maka ia senang sekali, dan ketika merampoknya gagal bahkan ketahuan maka perampok pun sedih.

Jadi selama kita hidup di dunia tidak akan lepas yang namanya senang dan sedih, setiap sekon waktu pun mengandung yang namanya senang dan sedih, bahkan senang dan sedih adalah sifat yang diciptaka oleh Tuhan untuk manusia dan diberika takdir umurnya masing-masing. Jadi buat apa kita mempermasalahkan kehidupan, dan nggak pede dengan diri kita sendiri, lha wong isinya juga gitu-gitu aja. Seperti ungkapan Gus Dur “gitu aja kok repot”, inilah yang menandakan beliau tidak memandang hidup sebagai masalah, namun sebagai karunia, karena Gusdur pede menjadi dirinya sendiri.

Jadi sekarang buat apa kita bersedih hati, tidak pede, yang ujung-ujungnya menyengsarakan diri kita sendiri. Galilah potensi takdir Tuhan dan berkausalitas kepadanya, karena kita memang mempunyai potensi masing-masing yang luar biasa, mempunyai daya linuwih yang tak sama dimiliki setiap manusia, memiliki daya Sang Aku dalam diri aku (kita). Karena ketika kita berlutut di hadapan Tuhan, namun kita dapat berdiri dihadapan siapapun. Wallahu a’lam. To be continue...

Penulis adalah jamaah Thoriqoh Cinta. Sebagai ’Santri Mbelinx’ di atas kerajaan Tuhan. Setiap waktu selalu menggigil merindukan Rindu, serta mendambakan di tepian telaga Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar