Laman

Senin, 20 April 2015

Kita, Gerbang Masa Depan Indonesia

Oleh: Aqidatul Ainni
Santri identik dengan penampilan sederhana, dididik dengan banyak ilmu agama dan berbagai kitab kuning dengan fokus utamanya. Patuh terhadap peraturan pondok dan manut segala perintah pak yai atau ustadz dan ustadzah. Bersedia mendapat ta’dzir (hukuman) dari pelanggaran yang di perbuat. Barokah dari sang guru adalah harapan para santri saat ber-tholaabul ‘ilmi. Mau berapa lamapun mondoknya, sepintar apapun orangnya, jika tak ada barokah dari sang guru, maka sia-sialah ia dalam mencari ilmu.


Sementara mahasiswa adalah orang yang berpikir bebas, memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi dan berani mengkritik sesuatu yang membawa bangsa ini menjadi jatuh. Mereka adalah orang-orang yang berpikir bahwa kemakmuran bangsa di mulai dari bangku kuliah (anak bangsanya). Mereka mulai berperan dalam masyarakat sebagai pembawa perubahan di dalamnya.


Berawal dari program kemenag dengan mengadakan program beasiswa santri berprestasi (PBSB), membuka kesempatan bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan mengasah kemampuannya. Santri adalah orang yang memiliki wawasan agama (spiritual) yang tinggi, sedangkan mahasiswa mempunyai kebebasan dalam berpikir tanpa terkengkang dengan perasaan takut terhadap karma (norma santri yang harus patuh terhadap kiyainya) jika keduanya dipadukan akan menghasilkan sesuatu yang mengesankan dan merubah negara kita yang semakin turun saja nilai-nilai moralnya.

Meskipun dalam sistem pembelajarannya, kedua memiliki cara-cara tersendiki dan tidak bis adi satukan, namun bukan tidak mungkin keduanya daat menjadi satu kesatuan yang selaras dan efekfif untuk negara indonesia menjadi baik. Merombak tatanan pemerintahan, penggusur para pejabat kotor dan mengindahkan panorama negeri tanpa mengubah hakikat dari bangsa ini sendiri.

Sistem pesantren yang agak sedikit mengekang, membuat santri taat dan patuh kepada peraturan yang di buat. Memang dalam agama islam sendiri kita di suruh menghormati orang yang lebih tua dari kita. Pesntren juga mengajarkan pada snatrinya untuk sami’na wa ‘atho’na terhadap apa yang di sampaikan ustadz atau pengajar. Tidak boleh melanggar, menentang bahkan membantah apa yang di samapaikan atau jika tidak para santri yang melanggar akan kualat terhadap perbuatannya.

Sebaliknya, dalam dunia mahasiswa, semuanya serba bebas, bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Mahasiwa juga mempunyai etika tersendiri dan peraturan-peraturan yang tercipta di lingkungan kampusnya. Bebas yang dimaksud disini adalah dalam mengutarakan pikiran atau pendapat-pendapat sendiri dan bebas mengekspresikan diri dalam segala hal (positif).

Upaya kemenag dalam menjembatani santri untuk meneruskan pendidikan yang lebih formal di rasa membawa angin segar bagi negara kita yang mengalmi kering dan panasnya musim panas. Perpaduan antara santri yang di bekali ilmu agama dan spiritual yang mengakar serta menjadi mahasiswa yang bebas namun terkontrol, di harap bisa merubah nasib bangsa yang memilukan kini.

Terlepas dari semua itu, kita sebagai generasi muda sekaligus penerus bangsa harus sadar bahwa tiada lagi yang akan mengubah bangsa ini menjadi baik kecuali kita. Menyatukan potensi-potensi anak bangsa dan menunjukkan taring pada dunia, ini adalah indonesia yang sebenarnya. Indonesia yang kuat, ramah dengan segala budayanya yang plural, penuh dengan nilai, etika yang mengagumkan, menjadi negara yang rahmatal lil ‘alamin, di kagumi dan di hormati oleh banyak negara. Kita bisa.....!!!

Penulis adalah santri asal Jetis Kapuan 01/05 Jati Kudus, alumni MA NU Assalam Tanjungkarang Jati Kudus. PBSB Angkatan 2014 Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN SGD Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar