Laman

Senin, 20 April 2015

Pahitnya Kehidupan di ‘Tanah Surga’

Oleh: Novi Yulianti
Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber alam, namun sayang sumber alam ini tidak di kelola oleh penduduk lokal tanah surga ini, melainkan banyak yang dikelola bahkan dimiliki oleh bangsa lain bukan karena bangsa ini tidak memiliki cendikiawan hanya saja tanah surga ini salah satu negara konsumtif yang lebih menyukai hal-hal instan khusus nya produk luar negeri di banding produk lokal asli negara sendiri, keadaan seperti ini adalah salah satu faktor penyebab tidak meningkatnya pendapatan perkapita di Indonesia sehingga terjadinya peningkatan kemiskinan yang berkepanjangan bahkan pemerintah belum mampu memberikan solusi yang tepat. 

 Selain tidak meningkatnya pendapatan perkapita, yang menyebabkan  terjadinya peningkatan kemiskinan di Indonesia adalah korupsi. Kata yang sudah melekat sejak lama untuk Indonesia sehingga Indonesia menduduki peringkat ke 68 dari 177 negara berdasarkan hasil survey Transparancy Internasional (TI) pada tahun 2014. “Selain merugikan keuangan negara korupsi juga menyengsarakan rakyat-rakyat kecil” ungkap Heinrich, seorang peneliti utama dalam Transparansi Internasional (TI) yang mengeluarkan daftar IPK baru tahun 2013. Sedangkan di Asia Pasific, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara terkorup di Asia Pasifik. Kenyataan yang sangat memalukan untuk tanah surga yang seharusnya mampu mensejahterakan bangsanya.  Bahkan dewasa ini di Indonesia korupsi hampir menjadi sebuah tren tersendiri yang sedang marak di lakukan baik itu di kalangan para pejabat kelas atas maupun pejabat kelas teri.

Berbagai faktor yang menjadi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia mengakibatkan kehidupan bangsa ini tidak sejahtera, yang akhirnya ada sebagian rakyat yang mulai merasa jenuh dengan keadaan negaranya sendiri, sehingga banyak terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh rakyat sebagai pelampiasan atas kejenuhan yang di rasakannya dan ada yang berprinsip sebagai jalan keluar untuk memenuhi  kebutuhan hidup yang semakin tinggi, penyimpangan-penyimpangan tersebut antara lain seperti pembegalan, pencurian, penipuan, perampokan, dan masih banyak lagi kriminalitas yang dilakukan sebagai aksi pemberontakan atas ketidak sejahteraan hidup di bangsanya sendiri.

Padahal jika dilihat dari sudut pandang sosial aksi penyimpangan tersebut akan  menimbulkan kerugian-kerugian baru sehingga membuat Indonesia semakin tidak sejahtera dan penduduknya semakin sengsara meski hidup di tanah surga.  Karena pada akhirnya tetap saja penduduk Indonesia masih serba kekurangan, harga serba naik, sekolah mahal, air bersih tidak ada, jalanan rusak, pembangunan tidak pernah selesai, semuanya hanya janji para pejabat semata untuk mengkelabuhi rakyatnya.

Penulis adalah santri alumni Pondok Pesantren Assathibyah, Sukabumi. Mahasiswa PBSB Angkatan 2015 Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN SGD Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar