Laman

Senin, 20 April 2015

Peran Pesantren di Tengah Modernitas

Oleh: Siti Alifatul Luthfiyah
Pesantren ialah sebuah lembaga pendidikan yang dalam kiprahnya dapat menembus berbagai zaman. Ia memiliki keunggulannya melalui sifat keluhuran dan kemampuannya untuk bersaing dengan peradaban dunia, termasuk di era modern ini. Pesantren dan segala tradisinya, kyai, atau pun partikel yang ada di dalamnya tidak dapat dipisahkan karena ada hubungan yang menjadikan pesantren sebagai institusi yang berdedikasi lebih.

Selanjutnya, perlu kita ketahui bahwa mengenai kemasyarakatan tidak lepas dari pesantren juga, khususnya di zaman modern ini. Mengingat dewasa ini menusia menghadapi pelbagai macam persolalan yang benar-benar membutuhkan pemecahan segera. Di balik segala perkembangan dunia khususnya di bidang IPTEK, dunia modern ini sesungguhnya memiliki potensi untuk menghancurkan kearifan manusia, di samping memang juga memiliki sisi positif tergantung pada subjek yang memanfaatkan kemodern-an tersebut.

Pesantren, Tradisi dan Modernitas
Lalu, apakah hal yang dapat menjadi solusinya? Atau, adakah sesuatu yang rasional dalam hal ini? Dan banyak lagi pertanyaan, permasalahan, problema yang melingkupi. Tetapi, yang cukup jelas bahwa dengan menempatkan pesantren sebagai suatu institusi pendidikan yang bersifat global. Walau memang selama ini, definisi atau paradigma “global” sering dikaitkan dengan transformasi institusional dari Barat, tetapi hal tersebut pun perlu dipertanyakan sebab pesantren pun sebagai suatu lembaga pendidikan tidak lepas dari modernitas yang memiliki kegigihan semangat untuk berkreasi dan berinovasi. Oleh karena itu, pesantren pun harus melihat dengan penuh kesadaran bahwa realita dunia modern ini merupakan bagian dari sunnatullah yang disikapi dengan penuh kehati-hatian.

Pesantren, jika di masa lalu menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang sakral dan menjadi ciri khasnya kini harus mampu menjawab tantangan modernitas. Implementasi tradisi yang canggih dan modernitas dunia ini seyogyanya menjadikan pesantren sebagai pusat sentral peradaban yang mengguncang dunia. Dengan kata lain, dengan tradisinya yang tetap melekat, pesantren mampu menjawab problem modernitas ini dengan bijak. Bertolak belakang jika pernyataan Barat yang tidak mengkaitkan masa lalu sebagai proses modernitas, pesantren justru meyakini bahwa modernitas pesantren berasal dari rentetan peradaban Islam di masa-masa sebelumnya.

Jika sebelumnya pesantren di masa lalu. Maka, pesantren pada abad ke 21 ini seyogyanya mampu menyesuaikan perkembangan zaman terlepas dari posisinya sebagai suatu institusi pendidikan. Pesantren juga harus memiliki sifat terbuka terhadap pengaruh dari luar dengan sikap yang adaptif dan selektif. Sebagai mana yang di ungkapkan oleh Nurcholis Madjid bahwa, “Produk pesantren ini diharapkan memiliki kemampuan tinggi untuk mengadakan responsi terhadap tantangan-tantangan dan tuntutan- tuntutan hidup dalam konteks ruang dan waktu yang ada (Indonesia dan dunia abad sekarang)”.
Oleh karenanya, tradisi dan modernitas ialah suatu kesatuan yang pada dasarnya adalah sebuah respons atau realitas. Sekarang pun, sebenarnya pesantren telah mengalami proses dialektika tradisi dan modernitas, terutama pesantren yang masih kuat mengusung tradisinya. Pesantren tidaklah apatis terhadap modernitas karena sifat modernitas itu pun termasuk hal yang global bukan hanya untuk kalangan tertentu. Artinya, pesantren yang tradisional yang mengusung tradisi dan modern yang tidak apatis terhadap modernitas ini adalah sebuah kekuatan yang luar biasa. Maka terbukti bahwa kesalahan besar bangsa Eropa ialah memberikan citra buruk atas tradisi ketika mereka memasuki masa Renaisance abad ke-18 lalu.

Peran Kiai, Santri dan Tasawuf dalam Pesantren
Sekali lagi, bahwa modernisasi akibat revolusi pengetahuan dan teknologi menuntut penyikapan yang aktif dan kontekstual. Dan pesantren akan tetap hadir dengan partisipasi penuh sebagai kontribusi untuk berjalan menghadapi zaman dengan segala model problemanya. Maka tidak berlebihan ketika kiai atau santri di tuntut untuk aktif mengikuti perkembangan informasi dan melakukan perumusan ulang dalam menjawab tantangan bagi macam problem kontemporer. Inilah yang menjadi letak relevansi dan aktualitas pesantren di tengah modernisasi kehidupan.

Berbicara masalah modernitas dan pesantren, tak lepas pula dari peran kiai dan santrinya serta tradisi yang mendarah daging. Selain itu, perilaku modernitas, hedonisme dan lainnya menjadikan sesuatu yang perlu diluncurkan. Apakah itu? Ialah sufisme atau tasawuf bagi masyarakat modern ini.

Menurut Komaruddin Hidayat terdapat tiga tujuan mengapa tasawuf atau sufisme perlu diberdayakan dalam kehidupan mereka.

Pertama, turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual.

Kedua, memperkenalkan literatur pemahaman aspek esoteris (kebatinan), baik terhadap masyarakat Islam –yang mulai melupakannya- maupun non Islam, khususnya masyarakat Barat.

Ketiga, untuk memberikan penegasan kembali bahwa sesungguhnya aspek esoteris Islam, yakni sufisme, adalah jantung ajaran islam, sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain ajaran Islam. Dalam hal ini Nashr menegaskan “tarikat” atau “jalan rohani” merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan (esoteric) dalam Islam, sebagaimana syariat berakar pada al-Quran dan Sunnah. Ia menjadi jiwa risalah Islam, seperti hati yang ada pada tubuh, tersembunyi jauh dari pandangan luar. Betapapun ia tetap merupakan sumber kehidupan yang paling dalam, yang mengatur seluruh organisme keagamaan dalam Islam.

Sifat dan pandangan sufistik sangat diperlukan untuk masyarakat modern yang mengalami sekian problema masa kini. Dengan syarat tidak dipusatkan hanya pada diri pribadi dan individu tetapi aplikatif dalam meresponi berbagai masalah yang dihadapi. Kemampuan berhubungan dengan Tuhan dalam tasawuf ini dapat mengintegrasikan seluruh ilmu pengetahuan yang tampak berserakan itu. Karena melalui tasawuf ini seseorang akan menyadari bahwa sumber dari segal-galanya, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi berasal dari Tuhan, sebagaimana alam dan manusia yang menjadi objek ilmu pengetahuan ini sebenarnya adalah bayang- bayang Tuhan. Di sinilah wawasan moral diperlukan dalam kemajua IPTEK, yaitu nilai yang di arahkan oleh nilai-nilai dari Tuhan sehingga tidak ada saling ketertabrakan satu sama lainnya.

Perpaduan yang Indah
Jika ilmu pengetahuan dan agama dipadukan maka keduanya akan memberi kekuatan tersendiri. Hubungan ilmu dan agama –ketuhanan- yang diajarkan juga di dalam dunia pesantren memupuk kepribadian santri yang agamis dan intelek. Dengan ilmu pengetahuan mengantarkan pada dunia dan lingkungan, sedang dengan ilmu agama menuntun arah di dunia dan jati dirinya.

Selanjutnya, ilmu agama –tasawuf- melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti. Sikap batin dan kehalusan budi pekerti yang tajam ini menyebabkan ia akan selalu mengutamakan pertimbangan kemanusiaan pada setiap masalah yang dihadapi. Dengan cara demikian, ia akan terhindar dari melakukan perbuatan- perbuatan tercela menurut agama.

Penulis adalah santri alumni PonPes Modern Al-Amanah, Junwangi-Krian-Sidoarjo. PBSB Angkatan 2014 Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN SGD Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar