Laman

Senin, 12 Oktober 2015

Selawat Cinta

 Oleh : Ka Me La

Langit malam kini bertengger manis menaungi bumi Al-wafa. Lantunan sholawat menggema memecah sunyi malam tak berbintang. Dan meskipun tanpa purnama, sendu warna langit setia menemani langkahku menuju aula pondok. Rutinitas kami sebagai santri Al-Wafa, mengadakan yasinan dan manaqiban setiap malam jum’at. Tak seperti malam biasanya. Aula penuh sesak hanya pada malam jum’at saja. Karena di akhir pengajian rutinan kami, selalu ada hidangan gratis yang menunggu untuk di perebutkan oleh para santri. Maklumlah, hidup sebagai santri tak semudah meng-i’rob kalimat dalam bahasa Arab.


 
Sudah banyak santri yang datang. Bahkan saking banyaknya, tempat duduk sampai ke shaf paling belakang, melewati hijab kuning cerah yang memisahkan antara tempat santri laki-laki, dan santri perempuan. Dengan terpaksa, namun sedikit bahagia, akhirnya aku duduk di shaf belakang. Meski akhirnya, tak ada hijab yang menghalangi antara aku, dan barisan santri perempuan yang duduk berjejer dengan bermacam warna dan corak mukena dan kerudungnya. Tapi aku tidak peduli. Bagiku, tak ada yang menarik dari mereka.  Aku mulai mengikuti lantunan sholawat, dan lalu terlena di dalamnya. 

Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Aku menoleh. Beberapa santri puteri terlihat rusuh memasuki aula. Tapi mataku tertuju kepada salah satu diantara mereka. Dia,  santri putri berkerudung hijau zamrud bermotif bunga krisan. Wajah putihnya yang tersorot lampu terang aula, membuatnya terlihat semakin bersinar. Bibir merahnya meranum lembut. Bagai mawar merah yang tengah segar-segarnya merekah. Atau permata Rubbi yang menebar kilau indah menawan. Dan mata indahnya, terbingkai dengan alis yang elegan.  Mata indah itu tiba-tiba melirik ku. Mata kami bertemu. Tapi dengan cepat dia menunduk. Dan lalu tersenyum. Ada lesung pipit di pipi kirinya yang kini menomat. Menambah keindahan wajah teduh, di balik geraian kerudung hijau zamrudnya. Indah.

Aku terkesiap. Ku rasakan desiran darahku memompa detak jantungku yang kini degupannya tak lagi beraturan. Ini memang bukan pertama kalinya aku bertemu dan melihat gadis itu. Sudah sering kami berpapasan di jalan saat pergi atau pulang kuliah. Tak di sengaja tentunya. Hanya menatap satu sama lain. Saling melempar senyum. Lalu ia pergi dengan pipinya yang memerah saat dia tertunduk malu. Aku mempunyai selera tinggi dalam hal cantik. Dan dari awal pertama aku melihatnya, tak ada yang bisa kukatakan, dia cantik. Gadis ini Cantik dengan inner beauty yang memancarkan keindahan pribadinya. Tapi sungguh! Malam ini dia begitu menakjubkan! Kecantikannya kian merebak. Ku lihat dia duduk di barisan belakang santri putri, sejajar lebih belakang dariku. Matanya melirik ku lagi, mungkin dia tersadar, kalau sedari tadi aku memperhatikannya. Ku palingkan wajahku darinya. Kini giliranku yang tertunduk malu.

Hey? Ada apa denganku? Kenapa aku tak tahan menatap nya? Bukankah seharusnyaaku yang meluluhkan hati wanita, lewat tatapanku? Kenapa malah aku tak bisa berbuat apa-apa saat ia menatapku?oh Tuhan.. inikah akhir dari kejayaanku sebagai penakluk hati wanita?

Aku bergelut dengan hatiku. Tak bisa ku pungkiri, bahwa sekarang aku lah yang tertawan oleh tatapan mata indah itu. Oleh senyum menawan itu. Oleh indah kelembutan itu. Aku yang luluh. Yang mulai merasa basah oleh air mata kerinduan, yang kini merasuk hati dan jiwaku. Ku putar kembali kepalaku, memalingkan wajah pada sosok indah di samping belakangku. Bibir merah alaminya yang melantunkan sholawat Nabi, membuat getaran indah di bentuk bibir yang penuh dan ranum itu. Matanya terpejam menikmati setiap kalimat sholawat yang ia lantunkan. Ada setetes air yang berkilau di sudut matanya, yang kini berhasil menuruni pipi lembutnya. Air mata itu. Yang mengurai kerinduan tersirat, kepada sang pemilik sholawat.

Ku palingkan wajahku, meski sebenarnya keiinginan hati masih ingin terus memandang indah wajahnya. Ku pejamkan mataku, lalu ku tarik nafas panjang. Dan ku hembuskan perlahan. Tanpa sadar bibirku berucap menyebut namanya. Zahira. Cantik hatimu menyempurnakan cantik wajahmu. Mungkinkah kini aku benar-benar jatuh hati kepadamu?. Jika iya,apakah kau pun akan merasakan hal yang sama sepertiku?

Desir angin malam menyentuh pipiku. Menembus kedalam aliran darah yang menyanyikan lagu kerinduan. Bagai lantunan sholawat yang menggema di bumi Al-Wafa.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar