Laman

Minggu, 14 Agustus 2016

Pro-Kontra Wacana Mendikbud, "Full Day School"

Oleh: Aqidatul Ainni*

Sistem pemerintahan Jokowi memang terkesan unik dan sedikit berbeda dibanding dengan era pemerintahan presiden Indonesia sebelumnya. Pasalnya, dalam satu periode akan diadakan evaluasi mengenai kinerja para menteri dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Tidak sampai disitu, para menteri yang kinerjanya dirasa kurang memenuhi target akan di copot dari jabatannya  dan digantikan oleh orang-orang yang dianggap memiliki integritas lebih.

Baru-baru ini, sekitar sebelas menteri  telah dicopot dari jabatannya dan diambil alih oleh orang-orang yang telah dipilih oleh presiden. Salah satu diantara menteri yang diganti adalah menteri pendidikan dan kebudayaan, Anis Baswedan oleh Muhajir Effendy.

Sebuah wacana yang cukup mengejutkan bagi masyarakat Indonesia mengenai rencana Mendikbud yang belum lama menjabat dalam kementrian ini yakni, “ full day school” (sekolah seharian).

Full day school yang diketahui kebanyakan orang adalah yang diterapkan di Negara-negara seperti Korea, Jepang, China dan lainnya. Dalam sistemnya, anak-anak diwajibkan berada disekolah hingga sore hari. Apakah itu belajar atau sedang mengikuti ekstrakurikuler. Namun, bukan berarti tidak pernah ada masalah dalam system ini, banyak kasus terjadi dalam full day school di Negara-negara tersebut seperti pembullyan hingga berujung pada kematian.

Setelah wacana ini disampaikan kepada presiden Jokowi, sepertinya wacana ini diberi lampu hijau oleh presiden. Full day school yang di wacanakan oleh mendikbud ini adalah mengenai penambahan pendidikan karakter disekolah, bukan diartikan untuk belajar seharian penuh. Dan hal ini juga sesuai dengan arahan presiden, bahwa kondisi ideal pendidikan Indonesia adalah terpenuhinya pendidikan karakter kepada peserta didik.

Full day school ini akan menitik beratkan kepada penanaman pendidikan karakter bagi anak sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah saja. Dalam system belajarnya, anak akan belajar seperti biasa sampai setengah hari dan sisanya mereka bisa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler  yang diadakan disekolah. Jadi anak tidak akan merasa bosan, sebab yang di inginkan adalah kegiatan yang menggembirakan.

Wacana tersebut juga mendapatkan respon positif dari komisi dakwah Majlis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis. Dalam pendapatnya, full day school adalah alternative yang bagus dalam menerapkan pendidikan karakter  bagi anak-anak Indonesia, tetapi juga perlu diingat bahwa system belajar yang demikian lebih cocok diterapkan dalam masyarakat perkotaan. Dengan sistem ini orang tua juga akan sedikit terbantu dalam mendidik karekter ,kepribadian dan lebih bisa mengembangkan potensi anak-anak mereka.


Meskipun demikian, wacana tersebut telah menimbulkan pro dan kontra dimanapun. Melaksanakan full day school tanpa pertimbangan yang matang hanya akan menimbulkan konflik dan kesalahan kedepannya, membuang-buang waktu yag bernilai hanya untuk sebuah percobaan yang belum terencanakan dengan matang.

Pendidikan di Indonesia, mulai dari sarana dan pra sarananya, tenaga pengajar dan murid didiknya hingga sekarang masih banyak yang harus dibenahi dan ditata. Sekolah di perkotaan, desa, dan daerah-daerah pelosok masih memiliki masalah-masalah yang perlu diselesaikan. Jika full day school tetap diadakan apakah tetap efisien dan membuat pendidikan Indonesia semakin membaik?

Di beberapa sekolah perkotaan masih saja ada yang memiliki sistem pergantian jam masuk sekolah (jam pagi dan jam siang), bahkan ada sekolah yang hanya memiliki lima orang guru dan banyak diantaranya adalah guru honorer. Para orang tua yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke bawah juga sedikit khawatir jika system pendidikan baru ini di terakan, bagaimana mengenai uang saku anak yang jika berada di sekolah terlalu lama akan bertambah?!, bagaimana dengan makan siang mereka jika di sekolah mereka tidak memiliki kantin yang layak?!, bagaimana jika anak-anak mereka yang lemah semakin tersudutkan dengan teman-teman mereka yang lebih kuat (pembullyan) jika jam sekolah di tambah?!bagaimana dengan waktu bermain anak yang semakin berkurang?!

Selain masalah diatas masih ada kontroversi lain bersinggungan dengan wacana tersebut. Indonesia adalah penduduk yang mayoritas agamanya adalah Islam. Selain pendidikan formal ada juga pendidikan non formal yang terdapat di Indonesia untuk meningkatkan pendidikan karakter anak selain  dari orang tua, salah satu diantaranya adalah sekolah diniyah (sekolah sore), TPQ atau ngaji sore.

Di sekolah non formal ini anak-anak diberi pengetahuan dan pengalaman lebih mendalam mengenai penddidikan agama yang tentu saja sudah mengandung pendidikan moral dan etika. Jika seandainya full day school tetap dijalankan, bagaimana dengan sekolah diniyah ini? Dimana anak akan mendapatkan pendidikan agama yang mendalam?! Dan bagaimana jika dengan system pesantren?!

Memang ada baiknya jika full day school diadakan, tetapi harus dilihat dulu sasaran lokasi dan konsep dari system full day school itu sendiri. Kesiapan dari murid-murid, tenaga pengajar, orang tua dan sarana serta pra sarananya. Dan perlu dipertimbangkan juga mengenai sekolah diniyah yang juga mengandung unsur penanam pendidikan karakter anak.

Dan hal yang perlu diingat oleh pemerintah adalah mengenai system atau regulasi yang ada dalam pendidikan itu sendiri, sudah layakkah dari standart pendidikan yang dicanangkan ataukah masihjauh dari layak. Selain itu, masih banyak pula daerah-daerah tertinggal yang membutuhkan perhatian lebih dalam pendidikannya. Bagaimana Indonesia maju jika hanya sebagian yang sejahtera?

Bagaimana menurut kalian? Save sekolah diniyah atau lanjutkan full day school?? Atau ganti menteri lagii, biar ganti system juga???

*Penulis adalah mahasiswi semester 5 jurusan Tasawuf Psikoterapi, fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag RI 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar