Apa kabar?

Post Top Ad

Rabu, 31 Mei 2017

PANCASILA LA ROIBA FIH


Oleh: M. Zidni Nafi’

Orang Indonesia memang unik. Punya Tanah Air sebesar itu dengan berbagai kekayaan yang dimiliki di setiap daerahnya, tersebar di belasan ribu pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Bahkan orang sana bilang, Indonesia itu ‘bongkahan surga’ yang jatuh dari langit—entah sepaket sama bidadari atau tidak. Atau, kata lagu lama, surga yang punya kolam susu ini cukup hanya dengan tancapkan tongkat kayu dan batu, jadilah tanaman.


Saking uniknya, tak cukup kalau hanya tongkat kayu dan batu, kini surga Indonesia juga bisa menyulap sawah-sawahnya untuk ditanami beton, abracadabra jadilah gedung apartemen dan supermarket yang tumbuh subur dan makmur. Hutan-hutan yang awalnya hijau dan lebat bisa diotak-atik sedemikian rupa, sehingga muncul air melimpah yang bertamu sampai ke rumah-rumah warga, warga pun jadi bisa berenang sesuka hati sambil tersenyum tersorot liputan televisi. Oh lucunya.

Lagu lama juga meriwayatkan, “kail dan jala cukup menghidupimu”, namun terlalu ribet kalau pakai kail dan jala, kini cukup modal pena dan amplop saja bisa buat investasi memberi makan tujuh turunan, dan sambil jalan-jalan ke luar negeri, asalkan tidak ketahuan. Oh senangnya. 

Inilah Indonesia, kalau ingin punya banyak pengikut itu gampang, cukup mengaku sebagai Tuhan, menjelma malaikat, menyamar menjadi nabi, atau minimal bilang saja sebagai orang yang paling terdepan membela Tuhan. Kalau masih tidak berani, cukup saja buka praktik menggandakan uang, dijamin laku. Benar-benar negeri surga! 

Apalah daya, ketika bidadari di negeri surga ini sungguh memberikan pelayanan yang mantab dan terjangkau bagi para penghuninya. Cukup tabung uang rokok selama beberapa hari, orang dapat menikmati surga yang mendunia. Oh indahnya.

Pancasila di Negeri Surga
Jangan salah, negeri surga tidak semata-mata keunikan di atas. Masih ada yang lebih surga lagi. Surganya Indonesia terdapat penghuni yang beraneka ragam umat yang bertuhan, ada masyarakat yang rajin ke masjid, ada yang senang ke gereja, ada yang gemar ke vihara, ada yang suka ke pura, atau dimana pun itu demi bersama-sama agar jalinan hati kepada Tuhannya tetap dekat dan terjaga. Masing-masing punya hak dan kewajiban dalam menjalankan apa yang diyakininya.

Apalagi kalau masyarakatnya berbicara, kita sering mendengar di mana-mana, “piye kabare?”, “kumaha damang?”, “apa kareba”, “ba a kabanyo?”, “aha do kabar?”, “gimane kabarnye?”, “yok opo kabare rek?”. Berbagai perbedaan sapaan tersebut dapat menyatu tatkala mereka mengatakan “apa kabar?”. Inilah negeri surga, persatuan dalam berbedaan bisa terwujud.

Bangsa yang sudah ‘sepuh’ tetapi masih muda ini tidak mempersoalkan entah mau dia itu putih, hitam, sawo matang, atau corak-corak lainnya. Mau itu berdarah biru, darah muda, darah kotor, darah tinggi, sama pula Indonesia tidak mempermasalahkannya. Inilah negeri surga, berbagai warna dan corak yang melekat, sama-sama mengaku dirinya sebagai “Merah Putih!”.

Di balik semua itu, ternyata negeri surga ini memiliki suatu ajaran originil dan marketable. Ya benar, “Pancasila”. Sebagai falsafah, Pancasila benar-benar lahir dari rahim Ibu Pertiwi, bukan oleh-oleh Belanda, warisan Jepang, apalagi made in China. Falsafah ini digali, diramu, dijaga oleh founding fathers melalui perjalanan sejarah yang berlumuran darah hingga pengorbanan nyawa, alhasil Pancasila pun bertahan menjadi dasar negara sampai saat ini. 

Ingin Mengubah Pancasila?
Pancasila memang bukan Tuhan, bukan pula agama. Ia bagian dari ajaran Tuhan, bernilai ajaran-ajaran agama juga.  Kalau boleh dikatakan, Pancasila mirip ajarannya Al-Qur’an, dzalika al-kitabu la roiba fih, Kitab ini tidak ada keraguan padanya. Kita tahu sendiri, tidak ada kesempatan—dan memang tidak punya otoritas—untuk meragukan kebenaran Al-Qur'an sebagai teks suci Tuhan. Siapa yang berani menentang kebenaran Al-Qur’an, sudah pasti ia akan berhadapan dengan Allah. Adapun meragukan makna atau tafsir tentang Al-Qur’an tentu beda lagi pembahasannya.

Begitu pula dengan “Pancasila La Roiba Fih”, tidak ada keraguan padanya. Negeri surga ini akan senantiasa membutuh Pancasila untuk menjaga kekayaan-kekayaan yang tidak dipunyai bangsa atau negara lain. Tidak sedikit memang ‘gerombolan tamu asing’ yang tak berperan sama sekali terhadap kemerdekaan Indonesia, tiba-tiba ingin menurunkan Pancasila sebagai dasar negara. Maka, tidak ragu lagi kepada Pancasila!

Tentu ini semua berkat keyakinan serta kekompakan masyarakat dalam mengamalkan, merawat, dan mengembangkan Pancasila, sehingga negeri kepulauan ini masih tetap berlayar membawa kebhinnekaan, menikmati kesuburan tanahnya, segar airnya, ramah orangnya,  lucu warganya, unik masyarakatnya, rukun umatnya.

Kalau sudah sadar akan Indonesia yang demikian, “Fa bi ayyi alai rabbikuma takadzdziban, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Bandung, 1 Juni 2017

Penulis adalah Penganut Spiritualitas Suluk Pancasila.