Laman

Senin, 20 April 2015

Kesenjangan Sosial

Oleh: Nur Asriyanti Jabir
Dewasa ini, Tidak sedikkit lho orang-orang yang memiliki problem pada cara Berinteraksi dan Bertoleransi pada komunitas baru, khususnya mereka para perantau yang bertemu di satu tempat atau lingkungan yang sama dengan Karakter masing-masing yang pastinya berebeda-beda. Bebrapa diantara mereka  beralasan karena  adanay rasa canggung dan takut salah, bahkan tak sedikit pula yang malas bergaul dengan orang-orang yang baru ia jumpai.

Padahal manusia masuk pada taraf Zoon politicon  sosial.yang tentu memrlukan Bantuan oleh orang-orang sekitar sekecil dan sesederhana apapun itu. Sangat mustahil seseorang melakukan sesuatu dengan sendirinya, sebab pada hakkikatnya Manusia diciptakan untu saling Tolong menolong.

Berbeda
Nah yang mesti kita ketahui saat ini, yaitu bagaimana meminimalisir adanya rasa Kesenjangan Sosial pada masyarakat kita dewasa ini, yang dimana, akibat adanya Jurang pemisah dalam kegiatan bermasyarakat kita, sehingga cukup sulit untuk membuat Perubahan dan perbaikan dalam hal-hal yang bersifat Umum kedepannya baik itu bagi Bangsa, umat, dan Agama kita, juga yang bisa membawa manfaat untuk satu sama lain???

Banyak faktor-faktor pendukung munculnya salah satu problem ini, kita bisa  lihat pada sistem atau proses Pembelajaran dan pendidikan saat ini, baik itu dalam lingkungan Keluarga, maupun lingkungan Sekolah yang kita sebut sebagai salah satu media Formal dalam pembentukan karakter anak, yang menurut saya belum bisa terseimbangkan  antara mana bagian untuk mengajar dan mana bagian untuk Mendidik. Kemudian, dari faktor Lingkungan, bisa jadi karena kurangnya Kepekaan dan kepedulian juga tingginya kadar keegoisan satu sama lain. yang tanpa kita sedari dengan seiring bergantinya waktu kewaktu, hal tersebut menjadi bagian yang melekat pada diri kita. Atau sebagai karakter yang pada dasarnya bisa diubah namun tak semudah dengan membalikkan kedua telapak tangan sekalipun.

Bereksistensi tanpa bertoleransi
Selama ini kita paham bahwa Perbedaan itu adalah rahmat, dan kita mengetahui bahwa para pelajar kita ditanah air ini hampi 50 persen atau sebagian dari kita ada sebagai seorang perantau. Nah  ini yang perlu kita perhatikan, bahwasanya tidak jarang dan tidak sedikit  diantara mereka yang memiliki kendala dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.
Lagi-lagi untuk keluar dari permasalahan atau kendala yang satu ini, kita perlu belajar bertoleransi, pastinya membuntuhkan Mental yang cukup besar dan kuat. karena hal ini bisa menyangkut pada perasaan masing-masing individu dalam sanggup atau tidaknya  menerima segala konsekuensi yang mungkin terjadi. Dan perlu kita tahu bahwa Bereksistensi tanpa bertoleransi itu sulit bahkan Mustahil, bagaimana mungkin kita eksisitanpa adanya orang-orang yang mendukung,mensupport juga menerima keberadaan kita dalam komunitas,??? Baiak dalam kuantitas sedikit maupun banyak???.

Hal ini dapat terpecahkan oleh adanya dan munculnya kesadaran diri pada Pribadi atau Individu masing-masing , dengan menimbulkan jiwa sosial, hal ini sangat perlu dan penting dimiliki oleh sesorang apabila hendak berkehidupan yang rukun, aman dan Damai. Karena dengan jiwa sosial ini kita dapat mengontrol cara atau pola kerja kita pada lingkungan sekitar, sehingga apabila tarjadi kesalahan-kesalahan dalam tingkahlaku  sesorang dalam sebuah komunitas, hanya kita anggap sebagi fitrah manusia yang tak bisa lupuk dari kesalahan, jadi kita dapat memahami bagaimana cara untuk bersosial pada lingkungan sekitar. Dengan jiwa sosial terutama pada kepekaan dan kesadaran diri yang kita miliki terhadap lingkungan kita, setidaknya kita mampu menjalin komunikasi yang baik terhadap masyarakat sekitar.

Penulis adalah santri alumni Pondok pesantren Sultan Hasanuddin, kabupaten Gowa, asal desa Nambowa, kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. PBSB angkatan 2015 Jurusan Tasawuf Psikoterapu UIN SGD Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar