Laman

Senin, 20 April 2015

Memahami Sebelum Memutuskan

Oleh: Alfiyah Laila Afiyatin
Akan ditetapkannya 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi, dewasa ini menjadi percakapan panas di muka publik, segera tercipta gerakan seribu kicauan pendapat dari kalangan pesantren khususnya, dan umumnya dari luar dunia pesantren.

Identitas ulama’ dan santri dari awal kaki berjuang merebut kemerdekaan hingga saat pada lezatnya menikmati kemerdekaan tidaklah diabaikan, merekalah yang mensport rakyat Indonesia yang pada saat itu harga dirinya terinjak dan dianggap sebagai Inlander ( bangsa rendahan), dari dorongan dan kekuatan syahidlah rakyat Indonesia berani melakukan perlawanan.

Cuplikan diatas tidaklah asing, posisi santri memang dijunjung tinggi di Indonesia.  Peringatan hari santri Nasional yang bertepatan pada tanggal 1 Muharrom memanglah ada manfaat dan madhorotnya. Dari PBNU meminta 22 Oktober sebagai hari Santri yang bertepatan pada peringatan Resolusi Jihad, tapi kalau sudah ditetapkan dan disetujui oleh berbagai pihak, yang penting tidak merugikan, Why Not ???

Namun, dalam membahas jasa para pejuang dan pahlawan di Indonesia tidak hanya terpaten pada santri, meskipun pahlawan dan para pejuang mayoritas Islam. Disini. Akan diambil dua point. Yang pertama, pahlawan dari Indonesia memang mayoritas Islam, tapi Islam mereka tidak berarti santri. Jika yang terlibat dalam hal diatas hanya dinisbatkan kepada santri, maka pahlawan yang non santri terabaikan. Kedua, pada tanggal 1 Muharrom dalam Islam telah dijelaskan sebagai hari dimana Nabi hijrah, jika saat itu digariskan sebagai hari santri , secara tidak langsung mengambil posisi sejarah Nabi Muhammad.

Kembali mengetahui dan memahami berbagai arah. Sebelum ditetapkan hari santri tersebut, seharusnya Jokowi sound kepada kyai-kyai sepuh yang benar-benar faham mengenai santri , mengingat bahwa kyai di Indonesia tidak hanya 1 atau dua. Kemudian membaca secara mendalam dam memahami sekaligus tentang sejarah santri di indonesia dan risalah tentang 1 Muharrom. 

Penulis adalah santri alumni Pondok Pesantren Fathul Hidayah Pangean-Maduran-Lamongan. PBSB Angkatan 2014 Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN SGD Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar