Laman

Senin, 20 April 2015

Santri Hijau NU, Hijau Daun

Oleh: Muhammad Nasruddin
Penghijauan selama ini hanya terlaksana oleh lembaga negara dan para pengusaha. Pelaksaan tersebut salah satu tanggung jawab mereka sebagai manusia bertanggung jawab dan yang terekam pada umum. Tetapi mereka hanya bagian kecil manusia peduli yang mendedikasikan diri demi makhluk bumi yang mulai acuh dengan kebutuhan tersebut. Dalam hal ini, penghijuan tidak diartikan sebatas reboisasi atau cagar alam, yakni segala hal yang menunjang kebaikan keseimbangan bumi, dari hal sederhana yang minimal untuk keseimbangan diri sendiri.


Di bumi belahan lain, masih banyak makhluk peduli akan tetapi belum tersalurkan kepeduliannya dalam “penghijauan”, salah satunya adalah santri. Dari keseharian yang sederhana dan lebur dalam masyarakat yang berlatar belakang pedesaan, terkadang muncul harapan ikut berperan menyumbang tenaga sebagai bentuk tanggung jawab mereka sebagai makhluk yang dekat dengan alam.

Timbul pertanyaan, apa yang dapat disalurkan santri untuk penghijauan? Apa saja yang menyokong semangat santri dalam pengpohonan? Sebagai agen of religion yang berjiwa sosial dan berhati ‘hijau’, yang kemudian bisa lebih membantu bangsa dalam mengembalikan semangat masyarakat peduli ‘hijau’ dari kedekatan dan pengaruh santri di masyarakat.

Islam ‘Hijau’
Islam adalah din (deen)-agama , jalan, dan atau cara hidup. Arti yang terkandung dalam kata islam yakni kepasrahan terhadap kehendak Alah yang Maha Esa. Sama dengan kata Dios dalam bahasa spanyol. Manusia yang beraga islam disebut dengan muslim, muslimin meykini bahwa agama ini adalah risalah terakhir yang diturunkan Allah sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya, dari segi ajaran –baik sosial, ekonomi, pengetahuan, dll.- dan disertai kandungan yang lebih luas daripada agama sebelumnya.(Abdul Djamali, 1992: 9)

Disini tidak akan menjelaskan kandungan yang lebih lebar tentang kandungnnya akan tetapi lebih fokus dititik kepedulian terhadapa alam dan perhatian kerusakannya. Sebagai rujukan pokok Al-Quran dan sabda baginda besar Nabi Muhammad Saw. yakni Hadits. Penggalian keduanya dari sudut pandang kesejahteraan alam.

Terkait hal itu, umat islam mengikuti prinsip etis dalam hubungan mereka dengan alam. Prinsip yang didasarkan atas kesadaran menjalankan islam seraya menjalankan berkomitmen kepada lingkungan. Enam prinsip itu yakni;
Pertama, memahami kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya (tauhid)
Hidup dengan cara agama hijau, berarti faham tentang makhluk yang berasal dari allah. rujukannya pemahaman ini pada ayat 3.  Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin[1452]; dan dia Maha mengetahui segala sesuatu.(Q.S. al-Hadid [57]: 3)

muslim faham ayat tersebut dan merenunginya, melihat yang paling terkecil ataupun terbesar yang dibuktikan oleh pengetahuan, semuanya itu ekspresi dari Tuhan dan ciptaan-Nya. Yang seluruhnya terdiri dari hal terkecil dari yang tak dapat dibagi dan memiliki keterkaitan antar sesama. Hal tersebut menunjukkan kekuasaan-Nya. Maka dari itu, muslim hijau harus faham keterkaitan tersebut karena oleh tuhan yang sama dan ketersalingikatan antar makhluk-Nya.

Kedua, melihat tanda-tanda tuhan  (ayat) diseluruh semesta.
“Tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” frasa ini banyak terdapat dalam al-Quran, di mana manusia yang berpikirlah yang dapat menjangkau kebenaran eksistensi Alah Swt. alam yang megah dan seluruh isinya berlangsungkan oleh-Nya dengan sempurna, namun bukan berarti kerusakan jawab ini tanggung jawab-Nya. Kerusakan alam menjdi konsumsi dan penikmatnya yakni manusia. Kembali hal tadi, hanya manusia yang berpikir yang mencetak kesadaran hijau.

Kenapa yang berpikir? Ketika manusia berpikir mendalam tentang alam, pasti mendapat dua pokok yang terdapat pada sisi lain dari  alam yakni penciptanya dan prosesnya. Dalam proses alam tersebut menuai hal positif dan negatif, yang perlu dikembangkan dan dijaga, inilah hasil kecil dari berpikir alam sebagai tanda-tanda Allah.

Ketiga, menjadi penjaga (khalifah) bumi.
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Kutipan ayat tersebut bukti bahwa Allah telah mendelegasikan manusia sebagai pemegang kekuasaan di bumi. Pemegangan tersebut mencakup mengembngkan dan menyelesaikan persoalan-persoalan bumi. kebijaksanaan Allah menumpukan hal tersebut karena manusia adalah konsumtif terbesar dipermukaan bumi, yang telah allah sediakan untuk manusia yang bersandang khalifah.

Peran muslim hijau, mengembalikan arti khalifah yang sebenarnya. Pemimpin alam dari segala musuh yang menyerang dan memperbaiki dari kerusakan yang dipimpinnya, keutuhan dari seluruh bagian alam dan simbiosis mutualisme-nya.

Keempat, menghargai dan menunaikan kepercayaan (amanah)
Mencontoh sifat nabi yang amanah, atau dapat dipercaya. Perawatan alam adalah yang diamanahkan Allah kepada manusia untuk dijaga dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Dan dapat mengambil hasil bumi dengan sebesar-besarnya akan tetapi amanah ini tidak begitu mudah, tidak semua memegang amanahnya dengan benar yang lebih mementingkan kepuasan diri dan buta realita efeknya.

Muslim hijau, selain contoh bijaksana, juga menjadi pengkaji pertama dan pengawal pertama yang ada pada alam bumi ini. Sebagai penyeimbang para manusia yang hanya bisa merusak tnpa tanggung jawab. Ketika amanah telah dipegang erat kepercayaan Allah akan tetap dan makin menunaikan dari yang diinginkan muslim tersebut.

Kelima, memperjuangkan keadilan (‘adl)
Manusia adalah pancaran sifat Tuhan, semisal ‘adl. Sifat pokok ini yang dipegang erat pemimpin yang bijaksana yang menciptakan keputusan yang bijaksana pula. Adil dalam lingkungan berarti ramah dengan alam menolong jika kerusakan.

Karena Allah yang paling bersifat adil dan Dialah yang paling mencintai keadilan. Rahmatnya akan selalu disalurkan pada manusia  yang adil melalui alam yang dikasihinya. (Sayid Sabiq, 1994: 109) Tindakan hijau adalah keadilan yang utuh yang diaplikasikan pada alam.  


Keenam, Hidup selaras dengan alam (mizan)
Inti kehidupan manusia berpusat pada kebutuhan besar yang seluruhnya tersedia pada alam. Allah telah memberi contoh segala keseimbangan dan kehebatannya pada alam, manusia hanya memelajari dan mengaplikasikan kembali pada alam pula. Alam menjadi guru sekalian objek utama yang paling ringan  dan tersulit. Dari alam terdapat kemanfaatan dan juga terdapat  potensi keburukan terbesar.

Muslim hijau, dalam tindakan kesehariannya menyelaraskan hati, tindakan, tindakan, dan kemanfaatan, dalam sudut pandang sekarang tertuju pada kasih sayang dan rasa menghargai terhadap alam dan seisinya.

Membangun kepedulian ‘hijau’
Kepedulian awal umumnya santri dibangkitkan dari empat faktor utama.
Pertama, teks agama Islam.
Santri yang biasa dikatakan makhluk sami’na wa atho’na (patuh) atau makhluk kitab suci, menggambarkan kepatuhannya secara total pada Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Kutubul Ulama, baik tekstual dan kontekstual. Namun disalah pahami jikalau santri umumnya mengartikan teks suci sebatas syariat, ibadah, dan ketuhanan. Yakni mendominasikan arti tersebut dalam kesehariannya, walaupun itu tidaklah salah.
Dari hal itu, dimulai dari rasa kepedulian yang didukung sisi lain dari teks agama yang kurang terjamah dari pemahaman pengetahuan santri, yakni sosial dan dalam hal ini ‘peduli hijau’ atau peduli penghijauan alam. Jika pengetahuan pembahasan dalam keilmuan pesantren diluaskan dalam tekstual suci tentang penghijauan atau perawatan alam, sangat begitu banyak yang mendukung keberlangsungan alam sebagai salah satu agen of rahmatan lil alamin.
Untuk konteks kerusakan alam yang telah diperbuat manusia, telah jauh hari diungkap dalam Al-Qur’an: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(Q.S. al-Rum [30]: 41).
Ayat tersebut gamblang menujukkan kepada kita -terutama santri- permasalahan di permukaan bumi dan diperlukan tindakan ke depan, bentuk penanggulangan dan perbaikan oleh kalifah fi al-ardh (manusia). Permasalahan yang menjadi tanggung jawab bersama untuk kepentingan semua. (Ibrahim Abdul-Matin, 2012: 28)
Masih terdapat banyak lagi, tekstual suci yang secara kontekstual mengharuskan manusia ikut andil peduli alam, dan terutama umat Islam –khususnya kaum santri- sebagai pemegang teks suci agama Islam yang memiliki kebenaran mutlak.

Kedua, lingkungan pesantren ‘hijau’.
Sangat banyak lingkungan pesantren besar yang bertatanan lingkungan berantakan, acuh kebersihan minim pepohonan. Sebagai lingkungan yang menjadi tempat berdomisili santri, lingkungan –interaksi manusia, bangunan, tatanan sosial- pesantern harus dibingkai dengan kesadaran awal untuk mengubah diri santri.
Bingkai tersebut dimulai dari sebuah aturan yang tidak bersifat membebani, seperti mewajibkan setiap santri menanam satu pohon dalam lingkungan pesantren atau bisa dengan menata lingkungan yang bersih dan asri. Langkah tersebut menjadi jalan awal menciptakan prinsip dasar santri akan menghargai keindahan alam dari efek yang merusaknya.
Menciptakan bangunan dan lingkungan yang penuh kekayaan alam yang disertai dengan slogan-slogan manis tentang cinta alam. Dari terbiasa menjadi kebutuhan yang dapat menghantarkan santri yang berjiwa ‘hijau’ dan peduli lingkungan.

Ketiga, Pengasuh/kyai ‘hijau’
Dalam dunia pesantren sangat dipengaruhi oleh para pengasuh atau kyai yang memimpin dipesantren. Di mana setiap tutur dan nasehat menjadi doktrin penting bagi seluruh santri. Memanfaatkan peran tersebut, kyai memiliki peluang besar dalam memengaruhi santri dari apa yang diinginkannya. Maka dari itu, tutur kyai menjadi lidah yang tepat menyalurkan cinta lingungan dalam membentuk santri ‘hijau’ dari pikiran, rasa, dan tindakan.
Akan tetapi, masih tidak sedikit para kyai pengasuh pesantren kurang menegaskan hal penting ini. Fakta ini sangat disayangkan, karena penilaian zaman milenium sekarang, makhluk yang bermanfaat adalah makhluk yang menyelesaikan suatu persoalan yang tengah dihadapi manusia sekarang, untuk mengangkat nama pesantren manfaat kyai perlu diangkat kembali kepedulian lingkungan melalui tangan-tangan santri ‘hijau’

Keempat, organisasi yang digeluti mayoritas santri, yaitu NU ‘hijau’
Sebagai organisasi terbesar di Indonesia, NU mempunyai peran besar dalam menunjang kecintaan mayoritas umat bangsa ini akan cinta ‘hijau’(lingkungan). Apalagi, NU ditompang oleh kaum sarung yang berdasi, yang dari lidahnya anggota NU siap bertindak.
Fokus peran NU akan ‘hijau’ lebih dikerahkan bagi kaum muda-IPNU, IPPNU, GP-ANSOR-yang kelak menjadi kader penerus bangsa dan generasi pembawa ‘NU’ yang ‘HIJAU’. Walaupun tidak hal yang mudah, peluang ini menjajnjikan kesejahteraan universal sebagai lembaga rahmatan lil alamin.
Peluang ini, dapat dikembangkan melalui lembaga pendidikan yang berlebel ‘NU’ sebagai pencerah dan nasehat demi dedikasi bangsa untuk negara, bahkan dunia. Selain itu, dapat diawali oleh nama pemegang NU terkemuka, yakni para ulama, sarjana, santri, dll.
Jika semangat ini telah di-iya-kan atau bahkan diapresiasi penuh oleh NU, akan dapat menjadi ujung tombak dari kemauan para kaum sarung -terutama santri- yang sebelumnya hanya dikiaskan buta alam.

Pesona warga sarung berhati ‘hijau’
Output kesadaran kolektif tentang lingkungan, membuktikan warga NU khususnya santri memiliki kepekaan mendalam terhadap alam dari inti keber-agama islam-an santri yang mengamalkan kontekstualnya untuk peran makhluk sosial. Pengaruh baiknya yang murni terkerahkan pengmalan dan penglaman keilmuan Islam yang murni.

Dan pada akhirnya, Pengerahan tersebut menutupi anarkisme fundamentalisme yang ‘tak menghangat mendingin’, mengganti kefanatikan ego menjadi kelenturan rasa. Dimulai dari kepedulian yang terkecil bertahap menuju yang super social. Menyelesaikan persoalan dari jalan lain yang melintang adanya.

Inilah harapan Islam, Nabi bersabda “Sayangilah yang ada di bumi niscaya semua yang ada di langit akan menyayangi kalian”. Menanam, menjaga, merawat, dll. Adalah bukti khidmat atau ibadah lain untuk mendekat dan berharap rahmat yang sebenarnya.

Semuanya bukanlah mimpi tapi masih menjadi gagasan suci yang lama adanya. Persoalan akan selamanya menjadi masalah, dan permasalah terbesar adalah alam yang akan diwariskan kepada anak dan cucu manusia hingga berakhirnya masa. Santri merupakan tokoh yang sekarang memiliki kedekatan lebih dengan masyarakat Indonesia, dan karena Indonesia paru-paru dunia, maka dari itu dunia berharap melalui santri untuk mewarnai persepsi keilmuan untuk kemanfaatan yang universal.

Penulis adalah alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, Mahasiswa PBSB Angkatan 2014 Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan anggota CSS MoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs).

3 komentar:

  1. Hijau daun,
    Hileud dong, hehehe......,,,,,
    Good,,👌✊

    BalasHapus
  2. Hijau daun,
    Hileud dong, hehehe......,,,,,
    Good,,👌✊

    BalasHapus
  3. Ayo bersama-sama marilah kita jaga lingkungan kita.
    Mari dukung Greenpack untuk mewujudkan indonesia yang lebih hijau. Informasi lebih lanjut tentang Greenpack dapat anda temukan di sini http://www.greenpack.co.id/

    BalasHapus