Laman

Rabu, 22 April 2015

Tuhan Tidur Dalam Sadarku

Oleh: Syifa’urrohmah
Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena mereka tidak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang sudah tidak memperdulikan sesamanya karena telah menyatu dengan Tuhannya, apakah orang tersebut sudah tidak disebut sebagai makhluk  sosial lagi? Dan apabila benih padi saja bisa menghasilkan butir padi, mengapa kita yang berasal dari benih Ilahi tidak bisa melahirkan sifat ke-Ilahi-an? Tentu saja bisa. Namun, yang menjadi persoalannya sekarang adalah bagaimana cara kita menemukan Tuhan dalam diri kita?


Di sisi lain, Tuhan seperti bersembunyi pada hukum kausalitas yang Dia ciptakan sendiri, melaknat dan memberi azab kepada setiap hambanya yang membangkang dengan alasan tidak taat pada aturan. Begitu banyak aturan-aturan yang mengikat dalam sebuah lembaga yang disebut agama. Mungkin itu juga yang menjadi salah satu penyebab seseorang menjadi atheis, mereka muak dengan segala aturan yang menurut mereka mengikat, membebaskan, namun tidak masuk akal. Mereka lebih memilih bertuhan pada rasio, yang lebih dapat meyakinkan, dan bisa dipertanggung jawabkan.


Kadang akupun merasa Tuhan sangat dekat denganku, namun sering pula aku merasa Tuhan sangat jauh. Dan hampir bisa dipastikan aku selalu meminta ampun pada Tuhan dalam setiap sujudku. Tapi mengapa Tuhan seperti tak mendengar ketika aku meminta pada-Nya, semua doaku seperti tersangkut di awan, terkikis oleh terpaan angin, dan hilang. Engkau begitu banyak memberiku cobaan, masalah, hingga kerap kali aku jatuh dan tersungkur, tak senangkah Engkau bila melihatku tersenyum? Sebenarnya, apakah yang Engkau fikirkan tentang diriku, apakah Engkau ingin membuatku kecewa, dan ragu terhadap kuasa-Mu?

Namun, apabila seseorang mempunyai keyakinan yang kuat terhadap Tuhan dan agama yang mereka peluk, mereka tidak akan mampu tergoyahkan oleh apapun. Seperti orang autis, yang memiliki dunia sendiri. Mereka hanya memandang dunia sebelah mata, sebagai tempat untuk hidup. Tujuan mereka hanya satu, bercinta dan mencoba melebur bersama Tuhan. Dan apabila itu sudah terjadi, maka apa yang mereka katakan adalah ucapan Tuhan, dan apa yang mereka lakukan adalah tindakan Tuhan.

Sekarang aku mencoba berpikir lebih keras, mungkin selama ini akulah yang terlalu egois, kurang peka terhadap ujianmu yang eksistensinya merupakan sebuah perwujudan atas kepedulian Tuhan terhadapku. Karena dengan adanya ujian itu aku menjadi pribadi yang lebih kuat, dan mungkin ini semua juga akibat dari ulahku sendiri, yang meskipun terus bersujud pada-Mu, namun tak jera pula aku mengulangi perbuatan hina yang Tuhan larang. Sempat terlintas dalam benakku untuk mengatakan “Tuhan, apabila aku masih melakukan hal-hal yang tidak Engkau ridhai, tak apalah Engkau acuhkan aku, tak menerima taubatku. Namun, ketika segala nafsuku sudah berada dalam genggamanku, aku mohon pada-Mu, tolong dengarkan segala keluh kesahku.

Aku akui pula, aku tak pernah serius mencari Tuhan, apalagi sampai berharap dapat menemukan Nya. Aku hanya ingin berleha-leha didunia yang fana ini, sambil bermimpi rahmat dan hidayah Tuhan menghampiriku. Ketika aku beribadah pada Tuhan, yang harusnya berfungsi sebagai alat komunikasi antara makhluk dan sang khalik, justru tujuanku masih terbalik 180 derajat yaitu, “Untuk menggugurkan sebuah kewajiban, agar sudah ada yang aku pertanggung jawab kan apabila kelak di akhirat,” pikirku. Apakah dengan semua ini, tindakan dan semua yang kupikirkan aku masih bisa disebut sebagai hamba yang taat dengan perintah-Mu atau mendurhakai-Mu?

Penulis adalah santri alumni Ponpes Raudlatul Mubtadi’in, Pati, Jawa Tengah. Mahasiswi PBSB Angkatan 2013 Jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar